Sidang Kasus Dugaan Penodaan Agama

Ahli Bahasa Sebut Pidato Ahok Harus Dipahami Utuh

LB Ciputri Hutabarat    •    Selasa, 21 Mar 2017 10:55 WIB
kasus hukum ahok
Ahli Bahasa Sebut Pidato Ahok Harus Dipahami Utuh
Sidang lanjutan kasus dugaan penodaan agama dengan terdakwa Basuki 'Ahok' Tjahaja Purnama Selasa 21 Maret 2017/ANT/Muhammad Adimaja

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengacara Basuki 'Ahok' Tjahaja Purnama menghadirkan ahli lingustik, Rahayu Sutiarti, pada persidangan ke-15. Menurut Rahayu, mengartikan sebuah pidato tak bisa hanya dari satu kalimat.

"Membaca, memahami isi, harus secara utuh. Harus melihat ke wacana dan pesan yang disampaikan secara luas," kata Rahayu dalam persidangan di Kementan, Jakarta Selatan, Selasa 21 Maret 2017.

Rahayu menjabarkan, pidato Ahok yang dipermasalahkan selama ini terdiri dari sejumlah klausa. Setidaknya, ada 6 klausa yang satu sama lain saling berhubungan.

"Dalam kalimat majemuk ada lebih dari satu klausa. Dalam pidato ini ada enam klausa dibatasi tanda baca koma. Nah, Induk kalimatnya itu 'jangan percaya sama orang'," ujar Guru Besar Universitas Indonesia tersebut.

Berikut petikan pidato Ahok yang dianalisis Rahayu:

"...Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu enggak bisa pilih saya karena dibohongin pakai surat Al Maidah 51, macem-macem gitu lho (orang-orang tertawa-red).

Itu hak bapak ibu, ya. Jadi kalau bapak ibu perasaan enggak bisa pilih nih, saya takut masuk neraka dibodohin gitu ya, enggak apa-apa, karena ini kan panggilan pribadi bapak ibu...."


Kemudian dia mengatakan intonasi dan nada ucapan Ahok juga sangat penting dalam mengartikan suatu pidato. Sejauh ini, tidak ada intonasi maupun nada ucapan Ahok yang bersifat mengolok-olok.

"Gubernur secara serius, berdiri, banyak memberikan ujaran yang membikin orang tertawa dan bertepuk namun tidak mengolok-olok. Dalam BAP saya ucapkan nadanya semangat dan santai," ucap dia.


(OJE)