BIN Ajak Para Ulama Tangkal Berbagai Ancaman ke Indonesia

Juven Martua Sitompul    •    Sabtu, 15 Jul 2017 05:15 WIB
radikalisme
BIN Ajak Para Ulama Tangkal Berbagai Ancaman ke Indonesia
Kepala Badan Inteligen Negara (BIN) Jenderal Budi Gunawan. Foto: Grafis Metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Jakarta: Kepala Badan Inteligen Negara (BIN) Jenderal Budi Gunawan mengakui ada sejumlah ancaman yang masuk ke Indonesia. Untuk menangkal ancaman itu, Budi mengajak para ulama ikut berperan menyatukan seluruh elemen masyarakat.

Budi mencontohkan bukti ulama memiliki peran penting dalam sebuah kejayaan. Salah satunya, kejayaan kekaisaran Ottoman pada masa Sultan Mehmed Al Fatih yang didapat berkat peran ulama bersama pemerintah, ilmuan dan rakyat.

"Karena Ulama merupakan sosok yang diberikan hidayah oleh Allah sehingga dapat memberikan masukan serta dapat menyatukan elemen bangsa," kata Budi melalui rilis yang diterima Metrotvnews.com, Jakarta, Jumat 14 Juli 2017.

Budi menjelaskan, saat ini inteligen telah memasuki era 3.0 yakni inteligen yang mampu memadukan peran personel inteligen, teknologi dan jaringan masyarakat. Konsep inteligen 3.0 ini sangat dibutuhkan guna mendeteksi mengeliminir ancaman-ancaman yang dihadapi di Indonesia.

Karena itu, ulama perlu mempelajari dan ikut terlibat langsung dalam konsep inteligen 3.0 tersebut. "Inteligen 3.0 telah diterapkan inteligen asing yang digunakan untuk mengganti rezim suatu pemerintahan," ujar mantan Wakapolri itu.

Budi mengatakan ancaman-ancaman yang masuk ke Indonesia. Pertama, ancaman black ops dengan cara mempengaruhi kelompok tertentu untuk menciptakan situasi inkondusif di pemerintahan.

Kedua, ancaman psyco ops yakni berita hoax yang terus mempengaruhi opini masyarakat. Kemudian ada juga, ancaman kelompok teror dengan konsep jihad fardiyah (amaliyah perorangan) yang ingin menciptakan khilafah islamiyah seperti zaman khilafah usmaniyah.

"Sekarang pergerakan kelompok ISIS di Timur Tengah mulai bergerak ke Asia Pasifik dan mempunyai tujuan untuk mendirikan Khilafah di wilayah Asia Pasifik," ulas dia.

Jenderal bintang empat ini juga menyebut bila narkoba termasuk ancaman besar bagi Indonesia. Sebab, Indonesia dijadikan target pasar narkoba oleh 27 kartel narkoba di dunia. Tak hanya itu, ancaman ideologi yang anti Pancasila juga diwaspadai oleh pihak BIN.

Selain di sektor keamanan, ancaman pada ekonomi negara juga ada. Ancaman ini didominasi oleh maraknya produk palsu khususnya pada produk Tiongkok, kemudian ancaman juga didominasi mafia pangan dan energi serta praktik ekonomi yang tidak sehat di kalangan pelaku ekonomi.

"Seperti isu masuknya tentara Tiongkok ke Indonesia, banyaknya tenaga kerja asing ilegal ke Indonesia. Lalu ancaman Cyber dan Media War. Maraknya informasi provokatif dan hoax yang dapat memecah belah bangsa indonesia dengan mengadu domba antara ulama dengan pemerintah," ujar Budi.

Budi menyatakan serangan virus di komputer merupakan ancaman dari pihak intelijen asing kepada Indonesia. Bahkan, separatis Papua Barat dan Papua serta Gerakan Aceh Merdeka menunjukan pergerakan yang signifikan.

"Ulama, umaro, umat islam, TNI dan Polri adalah kekuatan sekaligus kebanggaan indonesia dan negara untuk terus dapat menjaga keutuhan bangsa dan menjadi contoh bagi kehidupan dan peradaban dunia yang damai," tutur Budi.

Dia berharap, para kiai, ulama dan pemerintah terus berkomitmen mengimplementasikan nilai-nilai pancasila melalui pembinaan ideologi pancasila.

"Dalam penanganan masalah dan konflik sosial di masyarakat, pemerintah telah melalukan langkah antisipatif dan upaya cegah dini melalui pendekatan secara keagamaan dan pelibatan tokoh agama," pungkas Budi.


(SCI)

KPK Hormati Putusan Sela Praperadilan Novanto

KPK Hormati Putusan Sela Praperadilan Novanto

13 minutes Ago

KPK akan tetap menghadapi proses persidangan selanjutnya yang masuk dalam tahap pembuktian.

BERITA LAINNYA