Setahun, 203 Narapidana Meninggal di Penjara

Intan Yunelia    •    Senin, 07 May 2018 12:42 WIB
narapidana
Setahun, 203 Narapidana Meninggal di Penjara
LBH Masyarakat merilis kematian napi di penjara - Medcom.id/Intan Yunelia.

Jakarta: Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Masyarakat menyoroti tingginya angka kematian narapidana di dalam penjara. Tercatat sepanjang 2016-2017 ada 203 kasus kematian.

Peneliti LBH Masyarakat Albert Wirya mengungkapkan ada tiga penyebab kasus kematian narapidana yakni penyakit keras, bunuh diri, dan tindak kekerasan. Di 2016 saja tercatat ada 120 kasus kematian napi di lembaga pemasyarakatan, rumah tahanan, dan rumah tahanan Polri. 

Sebanyak 47,5 persen penyebabnya karena penyakit serius. Sementara di 2017 tercatat ada 83 kasus kematian dan 60,25 persen penyebabnya karena sakit. 

"Kami memandang ada kelalaian atas pemenuhan hak atas kesehatan dan hak atas perlindungan dari kekerasan yang dilakukan lembaga terkait kematian yang terjadi," kata Albert di kantor Ombudsman RI, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin, 7 Mei 2018.

Albert menuturkan besarnya kasus kematian tahanan karena sakit seharusnya jadi perhatian Ditjen Pemasyarakatan dan Polri. Kedua lembaga semestinya memiliki sistem rujukan yang baik. 

Sebab, banyak penyakit kronis yang bisa ditangani namun tidak bisa karena mereka berada di dalam penjara. "Kami meminta Ombudsman ikut serta dalam penyelidikan kasus ketersediaan layanan di penjara dan luar penjara," pinta Albert. 

Begitupun dengan tingginya kasus kematian karena bunuh diri. Sepanjang 2016-2017 tercatat ada 43 kasus bunuh diri tahanan maupun narapidana. 

(Baca juga: Negara Sulit Penuhi Biaya Makan Narapidana)

Dia menyebut kasus bunuh diri merupakan permasalahan kompleks yang harus dilihat dari berbagai aspek. Salah satunya kesehatan jiwa. 

"Dalam penjara tidak ada ketersediaan layanan kesehatan jiwa yang baik. Kami berkaca dari pengalaman kami sendiri mendampingi tahanan yang memiliki gangguan jiwa," tutur dia. 

Sementara kasus kematian tahanan karena tindak kekerasan sepanjang 2016-2017 ada 13 kasus. Lima dari 13 kasus itu melibatkan oknum aparat yang menganiaya tahanan sampai tewas.

"Beberapa kasus juga menunjukkan ada senjata tajam yang digunakan sedangkan ada peraturan senjata tajam di penjara yang tidak dijalankan dengan baik," beber Albert. 

Ditambah ada kesan menutup-nutupi dari aparat mengenai penyebab kematian tahanan serta perbedaan keterangan antara pihak berwajib dengan keterangan napi. 

"Pejabat mengatakan bahwa kematian wajar dan warga mengatakan tidak wajar karena adanya luka-luka lebam dan ini perlu adanya penyelidikan independen," tukas dia. 

Terkait hal itu, LBH Masyarakat meminta Polri menjalankan benar Perkapolri Nomor 14 tahun 2015 tentang Perawatan Tahanan di Lingkungan Polri. Sementara Ditjen PAS diminta menjalankan fungsi perawatan kesehatan terhadap tahanan di rutan sesuai dengan PP Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan.

(Baca juga: Festival Seni Narapidana Diharapkan Beri Dampak Positif)




(REN)

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

5 days Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA