Sjamsul dan Istri Berpeluang Diperiksa di Singapura

Juven Martua Sitompul    •    Selasa, 09 Oct 2018 18:56 WIB
kasus blbi
Sjamsul dan Istri Berpeluang Diperiksa di Singapura
Juru bicara KPK Febri Diansyah. Foto: MI/Susanto.

Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berpeluang memeriksa pemegang saham Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) Sjamsul Nursalim dan istrinya, Itjih Nursalim, di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Singapura. Pemeriksaan dilakukan jika keduanya terus mangkir dari panggilan penyidik.

"Kemungkinan itu sebenarnya ada ya, KPK juga pernah lakukan pemeriksaan saksi di Singapura," kata juru bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Selasa, 9 Oktober 2018.

Menurut Febri, timnya telah berkoordinasi dengan otoritas Singapura dan KBRI setempat untuk meminta keterangan Sjamsul dan Itjih. Pasangan suami istri itu diketahui sudah dua kali dipanggil penyidik.

Baca juga: Sjamsul Nursalim dan Istri Mangkir

Sjamsul dan Itjih sedianya diperiksa sebagai saksi pengembangan kasus korupsi penerbitan SKL BLBI pada Senin, 8 Oktober 2018, dan hari ini. Namun, hingga kini keduanya belum juga hadir memenuhi panggilan tersebut.

"Meskipun jadwalnya kami berikan Senin dan Selasa, kami akan panggil sekali lagi dan berikutnya kami akan pertimbangan bagaimana tindak lanjut dari penanganan kasus BLBI ini," ujarnya.

KPK sudah beberapa kali memanggil Sjamsul dan Itjih dalam proses penyidikan mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arsyad Temenggung (SAT). Sayangnya, keduanya tidak pernah mengindahkan panggilan itu.

Lembaga Antikorupsi menegaskan perkara korupsi SKL BLBI ini tak akan berhenti di Syafruddin, yang telah divonis 13 tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor Jakarta. KPK memastikan kasus ini akan dikembangkan ke pihak-pihak lain yang diduga ikut menikmati aliran korupsi tersebut.

Mengingat, kerugian negara akibat kasus ini cukup besar. Berdasarkan laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), kerugian negara akibat penerbitan SKL BLBI terhadap obligor BDNI mencapai Rp4,58 triliun.

Baca juga: KPK Buka Penyelidikan Baru Kasus BLBI

KPK mengakui telah memulai penyelidikan baru kasus ini. Pengembangan kasus itu dilakukan atas dasar putusan majelis hakim, di mana sejumlah nama disebut ikut terlibat.

‎Majelis hakim Tipikor Jakarta telah menjatuhkan hukuman 13 tahun penjara terhadap Syafruddin. Dia juga dihukum berupa denda Rp700 juta subsider tiga bulan kurungan.

Majelis hakim meyakini Syafruddin terbukti bersalah melawan hukum. Syafruddin dianggap telah melakukan penghapusbukuan secara sepihak terhadap utang pemilik saham BDNI pada 2004.

Dalam analisis yuridis, hakim juga berpandangan Syafruddin menandatangi surat pemenuhan kewajiban membayar utang terhadap obligor BDNI, Sjamsul Nursalim. Padahal, Sjamsul belum membayar kekurangan aset para petambak.

Syafruddin juga terbukti telah menerbitkan SKL BLBI kepada Sjamsul Nursalim. Penerbitan SKL BLBI itu menyebabkan negara kehilangan hak untuk menagih utang Sjamsul sebesar Rp4,58 triliun.




(HUS)

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

1 week Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA