Dua Tersangka Kasus Kondensat Batal Ditahan

Arga sumantri    •    Senin, 08 Jan 2018 17:25 WIB
korupsi migas
Dua Tersangka Kasus Kondensat Batal Ditahan
Ilustrasi Bareskrim - Medcom.id.

Jakarta: Dua tersangka kasus dugaan korupsi dan pencucian uang penjualan kondensat milik negara, Raden Priyono dan Djoko Harsono, batal ditahan oleh Kejaksaan Agung. Padahal, berkas perkara keduanya telah dinyatakan lengkap alias P21.

"Ya, ada masalah teknis dan selanjutnya saya enggak tahu. Cuma intinya hari ini masih belum ada informasi dari Bareskrim," kata Supriyadi Adi, pengacara Raden Priyono, di Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat, Senin, 8 Januari 2018.

Malah, kata Supriyadi, Bareskrim menyuruh pulang kliennya hari ini lantaran batal diserahkan ke Kejagung. Namun, ia enggan memerinci alasan kepolisian. 

"Saya enggak tahu (alasannya), tanya ke sana saja," tukas dia. 

Rencananya, penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri akan melimpahkan kedua tersangka bersama barang bukti kasus ke Kejagung hari ini. Informasi itu juga dibenarkan Kabareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto.

"Rencananya hari ini tahap kedua (kasus kondensat)," kata Ari Dono ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan.

Dikonfirmasi terpisah, Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya mengaku masih berkoordinasi dengan jaksa terkait pelimpahan tahap kedua kasus kasus itu.

"Penyidik sedang koordinasi teknis dengan jaksanya," ujar Agung.

(Baca juga: Bareskrim Blokir Rekening Rp32 Triliun dari Korupsi Kondensat)

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Muhammad Rum membenarkan belum ada pelimpahan tahap kedua kasus kondensat. "Belum ada pelimpahan tersangka dan barang bukti perkara kondensat," ujar Rum kepada Medcom.id.

Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Adi Toegarisman mengatakan ada tiga berkas tersangka yang dinyatakan lengkap.  Mereka, yakni mantan Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) Raden Priyono, mantan Deputi Finansial Ekonomi dan Pemasaran BP Migas Djoko Harsono, dan tersangka mantan Direktur Utama PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (PT TPPI), Honggo Wendratno. Honggo masih jadi buronan polisi.

Adi mengaku kesulitan meneliti berkas perkara korupsi yang diduga merugikan negara hampir Rp38 triliun itu. Sebab, ada puluhan saksi dan belasan ahli yang harus dimintai keterangan untuk melengkapi berkas perkara.

"Terus terang memakan waktu yang cukup lama karena berkas perkaranya begitu tebal. Sehingga, perlu waktu cukup panjang," ucap Adi. 

Kasus ini bermula ketika PT Trans-Pasific Petrochemical Indotama (PT TPPI) ditunjuk BP Migas untuk mengelola kondensat periode 2009-2011. Namun, saat melaksanakan lifting pertama pada Mei 2009 belum ada kontrak.

"Jadi dengan adanya surat dari BP Migas langsung dia lifting. Langsung mengolah. Baru 11 bulan kemudian dibuat kontrak kerjanya. Dimundurkan tanggalnya. Baru dilanjutkan kembali sampai 2011," beber Adi. 

(Baca juga: Satu Tersangka Korupsi TPPI Bakal Dipanggil Paksa)

Dalam kontrak, PT TPPI harus menjual kondensat pada PT Pertamina. Tapi belakangan diketahui PT TPPI tidak menjual kondensat ke Pertamina melainkan ke pihak lain.

Proses tersebut diduga melanggar keputusan Kepala BP Migas Nomor KPTS-20/BP00000/2003-SO tentang Pedoman Tata Kerja Penunjukan Penjualan Minyak Mentah/Kondensar Bagian Negara. Selain itu, tindakan ini tak sesuai Keputusan Kepala BP Migas Nomor KPTS-24/BPO0000/2003-SO tentang Pembentukan Tim Penunjukan Penjual Minyak Mentah/Kondensat Bagian Negara.

Walhasil negara dirugikan. Adi mengungkap, berdasar perhitungan BPK, kerugian negara mencapai USD2,716 miliar. Akibat perbuatannya tersangka dijerat Pasal 2 atau Pasal 3 UU Nomor 31/1999 tentang tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi. 


 


(REN)

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

7 hours Ago

Fredrich menyesalkan sikap JPU KPK yang dinilai sengaja tidak mau menghadirkan sejumlah saksi k…

BERITA LAINNYA