Polisi Diminta Bentuk Tim Pencari Fakta Kasus Novel

Dhaifurrakhman Abas    •    Selasa, 12 Dec 2017 21:42 WIB
novelnovel baswedan
Polisi Diminta Bentuk Tim  Pencari Fakta Kasus Novel
ua sketsa terbaru tersangka pelaku penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan di Gedung Merah Putih, Rasuna Said, Jakarta, Jumat (24/11). KPK dan Polda Metro Jaya memperkuat kerjasama kedua belah pihak untuk menemukan tersangka yang hingga ki

Jakarta: Pengamat Kepolisian Bambang Widodo Umar mendesak polisi untuk segera ungkap pelaku penyiram cairan kimia terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan. Ia meminta agar kepolisian membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).

"Solusinya usulan dari koalisi masyarakat sipil YLBH, Kontras, KRHN dan pemuda Muhamadiyah untuk dibentuknya TGPF direalisasikan," kata Bambang, dalam keterangan tertulis kepada Medcom.id, Selasa, 12 Desember 2017.

Baca juga: Polisi Belum Temukan Titik Terang di Kasus Novel

Hal ini dikatakan Bambang lantaran kasus Novel yang dinilai berlarut-larut. Hingga kini belum ada perkembangan yang berarti atas kasus Novel tersebut.

"Kalau masih punya hati nurani dan menilai kasus itu penting, maka harus segera diungkap. Proses penyelidikan sudah cukup lama," terang dia.

Baca juga: Ratusan Laporan Belum Bantu Polda Tangkap Penyiram Novel

Sebelumnya, Polda Metro Jaya telah menerima sekitar 500 laporan melalui hotline terkait kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. Namun, hingga kini polisi belum mendapat informasi akurat untuk menangkap pelaku.

Hotline tersebut berfungsi bagi polisi untuk mendapat informasi keberadaan pelaku penyiram Novel dari informasi masyarakat, melalui ciri-ciri sketsa wajah pelaku yang telah disebar, masyarakat dapat memberikan informasi ke pihak Polda melalui nomor 081398844474.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono mengatakan, ratusan laporan itu belum ada yang menyentuh substansi informasi yang dibutuhkan penyidik. Misal, warga hanya sebatas mengonfirmasi benar tidak nomor yang disebarkan itu untuk hotline kepolisian, malah ada yang menawarkan jasa paranormal.
 
"Ada yang SMS menanyakan betul enggak hotline-nya, mau enggak dibantu paranormal, masih seperti itu saja belum ada yang signifikan," ungkap Argo.



(CIT)