Saksi: Kata 'Pakai' di Pidato Ahok Penanda tak Ada Penodaan

LB Ciputri Hutabarat    •    Selasa, 21 Mar 2017 13:59 WIB
kasus hukum ahok
Saksi: Kata 'Pakai' di Pidato Ahok Penanda tak Ada Penodaan
Sidang lanjutan kasus dugaan penodaan agama dengan terdakwa Basuki 'Ahok' Tjahaja Purnama, Selasa 21 Maret 2017. Foto: Antara/Muhammad Adimaja

Metrotvnews.com, Jakarta: Saksi Ahli Bahasa, Rahayu Sutiarti, mengatakan kata 'pakai' dalam penggalan pidato Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok memiliki arti yang sangat berpengaruh. Hal ini bertentangan dengan penjelasan saksi bahasa yang sebelumya dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Mahyuni.

"Justru (kata pakai) berpengaruh besar. Kalau enggak ada kata 'pakai' berarti surat Al Maidah-nya bohong," kata Rahayu, di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa, 21 Maret 2017.

Rahayu pun menjabarkan detail arti kalimat 'dibohongi pakai surat Al Maidah'. Dari kalimat tersebut ada subjek yang tak disebutkan. Kemudian, kata 'dibohongi' merupakan predikat pada kalimat itu.

"'Pakai surat Al Maidah' adalah keterangan alat. Sementara pelaku tak disebutkan. Kita tak tahu siapa yang dibohongi kan? Tapi kita tahu alat yang digunakan," jelas Rahayu.

Karena penjelasan itu, Rahayu beranggapan tak ada ucapan Ahok yang dianggap menodai agama ataupun menghina ayat suci Alquran. Andai saja Ahok menganti kata 'pakai' menjadi kata 'merujuk', barulah Ahok menuding Alquran sebagai sumber kebohongan.

"Enggak mungkin Alquran berbohong. Jadi itu (kata pakai) sangat penting di situ," jelas Rahayu.
 

'Pakai surat Al Maidah' adalah keterangan alat
- Rahayu Sutiarti


Sebelumnya, saksi ahli bahasa dari JPU, Mahyuni, mengatakan kata 'pakai' tak terlalu penting dalam pidato Ahok. Sebab, sudah ada kata 'dibohongi' dalam padanan Ahok yang berarti negatif.

"Tetap alat untuk membohongi itu adalah surat Al-Maidah karena kalau bicara dibohongi, berarti ada alat yang digunakan untuk berbohong. Ada yang dibohongi, ada yang berbohong," kata Mahyuni, Selasa 13 Februari.

Jaksa mendakwa Ahok melakukan penodaan agama terkait ucapannya di Kepulauan Seribu. Saat itu Ahok mengutip surat Al Maidah ayat 51 dalam konteks memilih pemimpin. Ahok dijerat Pasal 156 atau 156a KUHP.




(UWA)