Petinggi Sampoerna Diduga Mengetahui Korupsi di Garuda Indonesia

Juven Martua Sitompul    •    Jumat, 09 Mar 2018 10:50 WIB
garuda indonesiakasus suapkasus korupsi
Petinggi Sampoerna Diduga Mengetahui Korupsi di Garuda Indonesia
Juru bicara KPK Febri Diansyah/ANT/Sigid Kurniawan

Jakarta: Corporate Secretary & Legal PT HM Sampoerna Tbk Ike Andriani diduga kuat mengetahui korupsi di PT Garuda Indonesia. Itu pula yang melatarbelakangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Ike sebagai saksi untuk tersangka bekas Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar.

Juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan Ike sempat menjabat Corporate Secretary & Legal PT Garuda Indonesia ketika kasus ini terjadi.

"Pemeriksaan untuk mendalami pengetahuan saksi saat menjabat di Garuda," kata Febri saat dikonfirmasi, Jumat, 9 Maret 2018.

Baca: Petinggi PT HM Sampoerna Diperiksa KPK

Febri masih enggan menjelaskan detil peran Ike dalam kasus tersebut. Dia hanya menginformasikan sepanjang pemeriksaan Ike dicecar soal proses pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus S.A.S dan Rolls-Royce P.L.C pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

"Penyidik mengklarifikasi proses pengadaannya," tegas Febri.

Sejumlah saksi yang diduga mengetahui kasus ini sudah diperiksa penyidik. Bahkan, tiga saksi mahkota yakni Sallyawati Rahardja, Hadinoto Soedigno, dan Agus Wahjudo telah dicegah KPK melalui Ditjen Imigrasi Kemenkumham.

Baca: KPK Periksa Vice President Internal Audit PT Garuda Indonesia

KPK juga telah menggeladah kantor perusahaan milik Soetikno Soedardjo Wisma MRA dan PT Dimitri Utama Abadi, anak perusahaan PT Mugi Rekso Abadi, yang bergerak dalam bisnis jasa transportasi udara.

KPK? menetapkan Emirsyah Satar dan Soetikno Soedardjo sebagai tersangka. Keduanya disinyalir telah korupsi dengan perusahaan Rolls Royce dan Airbus terkait pengadaan mesin dan pesawat untuk PT Garuda Indonesia.

Emirsyah Satar diduga menerima suap dari Soetikno dalam bentuk uang dan barang dari Rolls Royce. Ia diduga menerima 1,2 juta Euro dan USD180 ribu atau setara Rp20 miliar. Sedangkan barang yang diterima senilai USD2 juta dan tersebar di Singapura dan Indonesia.

Baca: Sebagian Bukti Kasus Garuda Indonesia Masih di Luar Negeri

Emirsyah sebagai penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b dan atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1991 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) KUHP juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

Sedangkan Soetikno selaku pemberi suap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1991 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.


(OJE)