PT Pharos Bantah Viostin DS Mengandung Babi

Faisal Abdalla    •    Selasa, 06 Feb 2018 12:36 WIB
izin edar obat
PT Pharos Bantah Viostin DS Mengandung Babi
Direktur Corporate Communication PT Pharos Indonesia Ida Nurtika (tengah) - Medcom.id/Faisal Abdalla.

Jakarta: PT Pharos Indonesia selaku produsen suplemen Viostin DS membantah produknya mengandung babi. PT Pharos mengklaim bahan baku produknya telah tercemar. 

"Viostin DS dibuat menggunakan  chondroitin sulfate dari sapi sebagai bahan baku utama. Jadi, kami tegaskan Viostin DS tak mengandung babi dan tidak pernah menggunakan bahan baku dari babi," ujar Direktur Corporate Communication PT Pharos Indonesia Ida Nurtika saat konferensi pers di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Selasa, 6 Februari 2018. 

Ida mengaku bahan baku chondroitin sulfate tersebut dipasok dari produsen di Spanyol yang sudah memiliki sertifikat halal dari Halal Certification Services (HCS). HCS, lanjut Ida, merupakan organisasi sertifikasi halal yang telah diakui Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Adapun sampel produk Viostin DS yang positif mengandung babi ketika di tes Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), lanjut dia, merupakan sampel dari bets tertentu yang telah tercemar. Hal itu diketahui setelah dilakukan uji internal menggunakan mesin uji yang sama dengan yang dimiliki BPOM.  

(Baca juga: Viostin DS dan Enzyplex tak Tersertifikasi Halal)

"Ada perbedaan mendasar antara 'mengandung' dan 'tercemar'. Ini yang kami ingin agar dapat dipahami masyarakat," tukas Ida. 

Ida mengklaim produk Viostin DS yang bahan bakunya tercemar babi tidak terlalu banyak. Semua produk yang tercemar babi, lanjut Ida, sudah ditarik dari peredaran. 

"Tetapi untuk memberikan rasa nyaman bagi konsumen dan sebagai wujud tanggung jawab, kami tidak hanya menarik produk bets yang diperiksa BPOM, tetapi  keseluruhan produk Viostin DS," tukas Ida.

Sebelumnya, BPOM menyatakan Viostin DS terkontaminasi DNA babi. BPOM meminta PT Pharos menarik dan menghentikan produksinya sejak adanya temuan indikasi kontaminasi pada akhir November 2017. 

(Baca juga: Produsen Diminta tak Abai dengan Bahan Baku)




(REN)