PCC tak Dapat Dikategorikan sebagai Narkoba

Damar Iradat    •    Selasa, 05 Dec 2017 12:08 WIB
pil maut pcc
PCC tak Dapat Dikategorikan sebagai Narkoba
Petugas menunjukkan sejumlah barang bukti saat pengungkapan kasus pabrik pil terlarang jenis paracetamol caffein carisoprodol (PCC) di Semarang, Jawa Tengah. Foto: Antara/Aji Styawan.

Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut pil paracetamol, caffein, dan carisoprodol (PCC) tak dapat dikategorikan sebagai narkoba. PCC sudah sejak lama tak terdaftar sebagai obat resmi atau golongan narkotika di BPOM.

Direktur Bidang Pengawasan Distribusi Obat BPOM Hans G. Kakerissa mengatakan PCC juga tak bisa dikategorikan sebagai obat. Pasalnya, definisi obat yakni produk yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit atau untuk terapi.

"Kami tidak kategorikan sebagai obat, tapi dalam kandungannya bukan narkoba," ungkap Hans saat dihubungi Medcom.id, Selasa, 5 Desember 2017.

Hans mengatakan BPOM hanya bisa menyebut PCC sebagai produk ilegal yang disalahgunakan. Pasalnya, PCC dibuat oleh industri dan beredar secara ilegal.

Kendati ilegal, Hans menyebut PCC juga tak bisa dimasukkan dalam kategori narkoba. Hal itu dikarenakan narkotika memiliki definisi dan klasifikasinya sendiri.

Produksi PCC yang ilegal biasanya tak terjangkau oleh lembaga pengawas obat dan makanan. Dalam proses produksi bisa saja para pelaku membuat PCC dengan mencampur bahan-bahan baku yang berbahaya.

"Makanya sangat berbahaya karena produsennya tidak mengerti soal kefarmasian, proses produksinya juga tidak tahu seperti apa, bahan baku juga tidak jelas," tegas Hans.

Peredaran pil PCC kembali terungkap setelah BNN dan Polda Jawa Tengah menggerebek sejumlah pabrik PCC di Jawa Tengah, Minggu, 3 Desember 2017. Penggerebekan dilakukan di Semarang, Solo, dan Sukoharjo.

Baca: Pabrik PCC di Solo Gunakan Teknologi Luar Negeri

Pabrik PCC di Kota Solo itu telah memproduksi 50 juta pil sejak pertama beroperasi pada Januari 2017. Satu tablet PCC dijual Rp4 ribu hingga Rp5 ribu. Peredaran pil PCC menjangkau banyak daerah, seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jawa Timur, Sulawesi, NTB, dan DKI Jakarta.

Sebelumnya, sekitar pertengahan September 2017, puluhan anak berusia 15-22 tahun dilarikan ke sejumlah rumah sakit di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara karena mengalami gejala gangguan mental usai mengonsumsi obat-obatan, seperti somadril, tramadol, dan PCC. Ketiga jenis obat itu dicampur dan diminum secara bersamaan menggunakan minuman keras oplosan. 





(OGI)

Kuasa Hukum Novanto Sebut Dakwaan KPK Bermasalah

Kuasa Hukum Novanto Sebut Dakwaan KPK Bermasalah

6 hours Ago

Pengacara terdakwa kasus korupsi KTP-el Setya Novanto, Maqdir Ismail menuding dakwaan milik KPK…

BERITA LAINNYA