Kepolisian Optimistis Berkas Kasus Djarot Rampung Tepat Waktu

Arga sumantri    •    Rabu, 30 Nov 2016 06:42 WIB
Kepolisian Optimistis Berkas Kasus Djarot Rampung Tepat Waktu
Wakapolda Metro Jaya Brigjen Pol Suntana. MTVN/Rommy Pujianto

Metrotvnews.com, Jakarta: Polda Metro Jaya optimistis bisa segera merampungkan berkas perkara kasus pengadangan kampanye Calon Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat, kendati kepolisian cuma punya waktu tiga hari lagi buat membereskannya.

"Kemarin kita P19 (dikembalikan) polisi memperbaiki itu, dan segera kita serahkan kembali," kata Wakapolda Metro Jaya Brigjen Pol Suntana di Mapolda Metro Jaya, Selasa (29/11/2016).

Polisi yakin berkas bakal segera dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan. Sebab, polisi sudah berdiskusi dengan jaksa soal kekurangan berkas perkara itu.

"Mana yang harus dipenuhi, sesuai dengan waktu yang ada. Insha allah akan dipenuhi oleh jaksa sehingga bisa P21 (dinyatakan lengkap)," ujar Suntana.

Bagi Suntana, dikembalikannya berkas perkara jadi proses merupakan hal yang biasa dalam satu penanganan perkara. Hanya saja kali ini merupaka hal yang kebetulan,  karena kasus pengadangan ini memang cukup menyedot perhatian publik.

"Itu biasa dalam proses penyelidikan. Bukan hanya kasus-kasus penegakkan hukum terpadu ini," tutur dia.

Jaksa telah mengembalikan berkas perkara kasus pengadangan kampanye Djarot di Kembangan Utara, Jakarta Barat. Jaksa menilai mesti ada beberapa poin yang harus dilengkapi penyidik.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono menyatakan jaksa memberi petunjuk agar penyidik melengkapi lagi keterangan saksi lain. Utamanya, saksi yang melihat langsung kejadian pengadangan di Kembangan Utara.

Argo memastikan berkas kini telah dilenagkapi oleh penyidik. Dalam waktu dekat, berkas bakal dikembalikan lagi ke Kejaksaan.

Polisi telah menetapkan seorang pria inisial NS sebagai tersangka kasus pengadangan kampanye Djarot di Kembangan. Polisi menangkap NS di rumahnya di kawasan Kembangan, Jakarta Barat, pada Selasa 22 November sekitar pukul 15.00 WIB.

Kepada penyidik, NS mengaku menghadang kampanye Djarot karena tidak suka dengan pasangan Djarot, Basuki 'Ahok' Tjahaja Purnama. Sebab Ahok dinilai telah menodai agama.

Polisi menjerat NS dengan Pasal 187 ayat (4) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Mengganggu Jalannya Kampanye dengan ancaman pidana penjara maksimal enam bulan atau denda paling banyak Rp6 juta.
(SCI)