Pensiunan Ditjen Dukcapil Bersaksi soal 'Uang Demit'

Muhammad Al Hasan    •    Kamis, 15 Feb 2018 14:40 WIB
korupsi e-ktp
Pensiunan Ditjen Dukcapil Bersaksi soal 'Uang Demit'
Ilustrasi/Medcom.id/Mohammad Rizal

Jakarta: Pensiunan Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kemendagri Yosef Sumartono memberik keterangan soal 'uang demit' dalam persidangan kasus korupsi KTP berbasis elektronik (KTP-el). Yosef mengaku pernah menginjak 'uang demit' yang sempat diberikan kepadanya.

"Setelah yang itu, Pak. Setelah semua dari Pak Paulus Tannos (pihak swasta) itu yang saya injak-injak. Saya tahu bentuknya. Jadi, waktu itu Pak Sugiharto (eks pejabat Kemendagri), saya mau kasih, kan sedang dipanggil Pak Irman (eks pejabat Kemendagri), saya ke ruang sekretariat dulu. Teman-teman panitia lelang di ruang itu nanya 'bawa apa itu'. Saya bilang, 'demit,'" Yosef menjawab pertanyaan hakim di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis, 15 Februari 2018.

Baca: Novanto Sebut Irman Sering Catut Namanya

Yosef juga pernah disuruh menerima sejumlah uang yang kemudian diberikan kepada Sugiharto. Ia melakukan itu atas perintah Sugiharto.

Uang itu diantarkan di tujuh lokasi. Yosef mendatangi lokasi pertama di Mal Cibubur Junction dan mengambil uang USD500 ribu dari Vidi Gunawan. Ia kembali menerima USD400 ribu dari Vidi Gunawan di Holland Bakery Kampung Melayu.

Penyerahan uang kali ketiga dilakukan orang yang sama sejumlah USD400 ribu di pom bensin AURI. Vidi kemudian kembali menerima uang USD200 ribu yang dititipkan melalui Yosef di pom bensin Kemang, Jakarta Selatan.

Baca: KPK Ajukan Kasasi JC Irman dan Sugiharto

Serah terima uang USD300 ribu kemudian dilakukan di Menara BCA dekat Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, dari utusan yang mengaku istri Paulus Tannos. Transaksi fulus dari Johanes Marliem dilakukan di lokasi keempat, Mal Grand Indonesia, Jakarta Pusat, sejumlah USD200 ribu. Terakhir, Yosef menerima uang USD200 ribu dari Fauzi, utusan Dirut PT Quadra Soution di kediamannya.

Yosef juga mengaku pernah disuruh menukarkan uang Rp1 miliar menjadi SGD100 ribu. Uang kemudian diberikan kepada Sugiharto.

Namun, Yosef selaku mengaku tak tahu untuk apa uang diberikan. Ia mengaku hanya menjalankan perintah tanpa banyak bertanya.

Awalnya, Yosef tak mengakui dirinya merupakan staf yang diperbantukan oleh Irman dan Sugiharto. Bantahan itu ia sampaikan ketika ditanyai hakim dalam sebuah sidang.

Ia mengklaim tak mendapat upah bulanan atas pekerjaannya meski ketika menerima perintah Irman maupun Sugiharto. Uang yang ia terima hanya berupa biaya makan.


(OJE)