Mental Terganggu, Anak Minta Merry Utami tak Diisolasi

Lukman Diah Sari    •    Kamis, 22 Sep 2016 15:11 WIB
eksekusi mati
Mental Terganggu, Anak Minta Merry Utami tak Diisolasi
Devi, putri Merry Utami, di kantor Kejaksaan Agung. Foto: MTVN/Lukman Diah Sari

Metrotvnews.com, Jakarta: Merry Utami, terpidana mati kasus narkoba, masih meringkuk di sel isolasi, Pulau Nusakambangan, Cilacap. Devi, putri Merry, menyebut, kondisi mental ibunya sangat memprihatinkan.

Kejaksaan Agung menangguhkan eksekusi mati terhadap Merry Utami pada 29 Juli. Jaksa Agung M. Prasetyo menyampaikan, penundaan eksekusi Merry dengan mempertimbangkan aspek yuridis dan nonyuridis.

Senin 19 September, Devi menjenguk ibunya. Menurut Devi, ibunya tak lagi merasakan kehidupan selama diisolasi.

"Ibu saya sangat memprihatinkan keadaannya. Psikologisnya trauma, setiap malam tidak bisa tidur dan selalu mendengar suara buka pintu," kata Devi di kantor Kejaksaan Agung, Kamis (22/9/2016).

Devi yang didampingi pengacara dari LBH Masyarakat, Afif Abdul Qohim, meminta Kejaksaan memindahkan ibunya ke Lapas Tangerang. Dia berharap, pemindahan ke Lapas Tangerang membuat kondisi Merry membaik.

Afif mengatakan, selama dua bulan Merry mendekam di sel isolasi tanpa kepastian. "Ketika kami ketemu dia, Merry mengeluh bahwa dia sangat labil dan kesehatannya menurun," beber Afif.

Di sel isolasi, Merry tak bisa beraktifitas, kecuali untuk ibadah. Sedangkan saat di Lapas Tangerang, lanjut Afif, Merry biasa memasak, tata busana, dan menyanyi dengan narapidana lain.

"Ketika di Lapas Cilacap, tidak ada kegiatan, Merry tidak bisa bekerja. Itu bikin dia makin drop," jelas Afif.

Afif mengatakan, kewenangan memindahkan Merry dari Nusakambangan ke Lapas Tangerang ada di tanhan Jaksa Agung. Menurut Afif, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan tidak berani menggeser posisi Merry, meski hanya ke blok di Nusakambangan.

Merry Utami divonis hukuman mati karena kedapatan membawa heroin 1,1 kilogram di dalam tasnya. Perempuan asal Sukoharjo, Jawa Tengah, tersebut ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta, 31 Oktober 2001.

Menurut Prasetyo, Kejaksaan Agung akan tetap melanjutkan eksekusi mati terpidana mati kasus narkoba. Ini sebagai bentuk ketegasan pemerintah dalam perang melawan bandar narkoba.

Data yang dikantongi Prasetyo bahwa saat ini korban penyalahgunaan narkoba di Indonesia lebih dari lima juta orang. Dari jumlah itu 1,5 juta di antaranya sudah tidak mungkin diobati.

Prasetyo juga menyebut hampir 40 orang sampai 50 orang setiap hari meninggal karena penyalahgunaan narkoba. Lebih dari 60 persen penghuni lapas terlibat kejahatan narkoba.

 


(TRK)

Video /