Istri Irman Gusman Ceritakan Kronologis Penangkapan Suaminya

Al Abrar    •    Selasa, 20 Sep 2016 23:21 WIB
irman gusman ditangkap
Istri Irman Gusman Ceritakan Kronologis Penangkapan Suaminya
Istri Irman Gusman, Liestyana Rizal Gusman (kedua dari kiri) menceritakan penangkapan suaminya - MTVN/Al Abrar

Metrotvnews.com, Jakarta: Istri Irman Gusman, Liestyana Rizal Gusman, menceritakan kronologis penangkapan suaminya oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Irman diduga menerima suap sebesar Rp100 juta terkait pengurusan kuota gula impor yang diberikan bulog pada CV Semesta Berjaya tahun 2016 di Sumatera Barat. 

Berlinang airmata, Lies sapaan akrab Liestyana menceritakan kronologis penangkapan pada Sabtu dinihari 17 September 2016. Kala itu, Lies usai menjalani salat isya ingat pintu kamar belum dikunci, Irman meminta dirinya untuk mengunci pintu.

"Begitu keluar, di depan kamar saya di atas tangga lantai dua sudah ada orang KPK sembari teriak-teriak dan membawa kamera. Langsung bilang: Bapak kami tangkap! Bapak terima suap!" cerita Lies, saat jumpa pers di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (20/9/2016).

Tak terima dengan tuduhan KPK, Irman meminta penyidik KPK turun, untuk membicarakan perihal tuduhan KPK tersebut.

Di lantai bawah, ternyata sudah menunggu Direktur Utama CV Semesta Berjaya Xaveriandy Sutanto alias Tanto bersama istrinya Memei yang sudah ditangkap terlebih dahulu yang juga sebelumnya bertandang ke rumah Irman.

"Waktu saya ke bawah ternyata tamu bapak tadi ada di bawah. Bu Memei. Kemudian KPK kembali tuduh bapak." ujar Lis. 

"Bapak kami tangkap karena bapak memberikan rekomendasi kuota gula kepada ibu Memei. Dan bapak saya lihat bapak menerima barang suap dari Ibu Memei," kata Lies menirukan ucapan penyidik KPK.

Cerita pun berlanjut, ditemani Wakil Ketua DPR Fadli Zon, dan pimpinan DPD Gusti Ratu Kanjeng Hemas, Lies sesekali terisak mengusap airmatanya.

"Dia (penyidik) kembali lagi ke ibu Memei. Kamu kasih apa?" ucap Lies menirukan ucapan penyidik KPK ke Memei.

"Saya enggak ada suap-suap bapak (Irman). Saya cuman kasih oleh-oleh," jawab Memei saat itu.

Menurut Lies, penyidik juga menghardik Irman lantaran telah menerima suap dengan memuluskan pengurusan kuota impor gula. Saat itu, Irman memberikan keterangan bahwa dirinya adalah pebisnis yang juga wakil rakyat. 

Namun penyidik kata Lies bersikeras bahwa sebagai pejabat publik dilarang menerima apapun. Bahkan saat itu, ungkap Lies, penyidik bernada tidak sopan.

"Bapak enggak boleh bantu orang ini, bapak korupsi," kata Lies lagi menirukan petugas. 

Kemudian Lies ingat bahwa setiap penangkapan harus diringi surat resmi, dia lalu menanyakannya. Namun saat itu penyidik hanya menunjukkan surat penangkapan atas nama Tanto tertanggal 24 Juni 2016.

Tak terima dengan surat itu, Lies berang, dan meminta agar hanya Tanto dan Memei yang digiring ke KPK. Kurang lebih 10-15 menit bersikeras dengan KPK. Tanto dibawa masuk.

"Dia (Tanto) balik dengan tangan kiri, dengan pongah, dengan tangan kiri ya, ' Mana uang yang saya kasih 100 juta buat beli mobil'," tanya Tanto.

Mendengar kata-kata itu, Irman kemudian meminta Lies supaya mengambil bungkusan yang diberi Memei. "Saya agak kesal, saya lempar (bungkusan) itu," ujar Lies.

Kemudian, Lies meminta agar Irman menuruti permintaan penyidik untuk dibawa ke Gedung KPK. Sebab saat itu penyidik bersikeras jika tidak mau dibawa, maka Irman akan diborgol.

"Saya bilang, sudahlah pah. Bapak ikut saja, saya tunggu di sini," ucap dia.

Usai suaminya digiring penyidik, dia mencari tahu bagaimana penyidik bisa masuk ke rumah. Menurut satpam penyidik beralasan akan menangkap Tanto yang sedang berada di dalam rumah Irman.

"Jadi mereka (penyidik) memaksa masuk ke dalam. Mereka bilang, saya punya target di dalam namanya Tanto. Itu jelas sekali kepada penjaga," ungkap Lies.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon yang ikut mendampingi Lies mengatakan, cara yang dijalani KPK dalam menangkap Irman telah menyalahi prosedur dan tidak profesional. Apalagi saat itu, KPK tidak membawa surat penangkapan.

"Jadi ada sejumlah hal yang patut dipertanyakan, tapi melihat kronologi itu tak ada surat penugasan. Tamunya maksa ketemu. Tentu ini menjadi bahan yang perlu ditelusuri," kata Fadli.

Fadli meminta agar KPK beritndak adil dengan kasus-kasus yang lain, diharapkan cerita dari Lies menjadi bahan pertimbangan bagi publik agar tidak memandang sebelah mata kasus yang menerpa Irman.

"Kita tidak ingin KPK ini menjadi alat kekuasan, dan alat politik, kalau mau KPK juga membongkar kasus Century, BLBI dan Sumber Waras," pungkas dia. 


(REN)

Video /