Miryam Bacakan Eksepsi Hari Ini

Damar Iradat    •    Selasa, 18 Jul 2017 09:50 WIB
korupsi e-ktp
Miryam Bacakan Eksepsi Hari Ini
Tersangka pemberi keterangan palsu dalam sidang kasus dugaan korupsi pengadaan KTP-el tahun anggaran 2011-2012, Miryam S. Haryani. Foto: MI/Ramdani.

Metrotvnews.com, Jakarta: Mantan anggota Komisi II DPR RI Miryam S. Haryani diagendakan membacakan eksepsi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Selasa, 18 Juli 2017. Eksepsi diajukan setelah Miryam keberatan dengan dakwaan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Besok (hari ini, Selasa, 18 Juli 2017) diagendakan pembacaan eksepsi oleh terdakwa Miryam," kata Kepala Humas Pengadilan Tipikor Jakarta Yohannes Priyana saat dikonfirmasi, Senin, 17 Juli 2017.

Pada sidang Kamis, 13 Juli 2017, Miryam didakwa dengan sengaja tidak memberi keterangan atau memberikan keterangan yang tidak benar. Caranya, mencabut keterangannya yang pernah diberikan dalam berita acara pemeriksaan (BAP) di KPK.

Miryam didakwa melanggar Pasal 22 juncto Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Dia merasa keberatan didakwa sebagai pemberi keterangan palsu. Politikus Hanura ini tetap pada pendiriannya tidak pernah memberi keterangan palsu.

"Saya tidak mengatakan keterangan tidak benar sesuai dengan Pasal 22 (UU Tipikor)," kata Miryam usai sidang pembacaan dakwaan.

Dia merasa aneh didakwa memberi keterangan palsu. Dia mengklaim sudah menyampaikan seluruh keterangan yang sebenarnya di dalam persidangan.

Soal BAP yang banyak menyebut peran anggota DPR, dia justru mengaku memberi keterangan dalam keadaan tertekan. "Saya merasa agak tertekan dan cukup stres ya. Terutama yang dominan menekan saya adalah pak Novel (penyidik senior KPK Novel Baswedan)," kata Miryam.

Baca: KPK Beberkan Peran Setya Novanto dalam Kasus KTP-el

Usai persidangan perdananya, Miryam heran bila disebut ditekan oleh rekan sesama politikus. Menurut dia, seharusnya KPK memberikan perlindungan bila memang ada pengakuan rasa terancam di awal penyidikan.

"Kenapa tidak diberikan perlindungan kepada saya? Kok didiamkan? Kan jeda pemeriksaan pertama dan berikutnya cukup lama," kata Miryam.

Dia mengaku siap dikonfrontir dengan penyidik yang memeriksanya. Bahkan dia mengaku siap untuk diadu dengan bukti rekaman. "Bagaimana (pemeriksaan), tidak bisa dilihat dari video. Tertekan di fisik dan video kan beda," tandasnya.

Miryam akan menghadirkan saksi ahli untuk membuktikan hal ini. Namun, dia belum mau bocorkan saksi yang akan dihadirkan di sidang nanti.




(OGI)