Suap Kendari Untuk Biayai Kampanye Asrun di Pilgub Sultra

Juven Martua Sitompul    •    Kamis, 01 Mar 2018 18:52 WIB
OTT Wali Kota Kendari
Suap Kendari Untuk Biayai Kampanye Asrun di Pilgub Sultra
Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan--Antara/Reno Esnir

Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mensinyalir, uang suap yang diterima Wali Kota Kendari Adriatma Dwi Putra untuk membiayai logistik kampanye sang ayah Asrun, calon Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra). Uang suap itu diterima dari Hasmun Hamzah pemilik PT Sarana Bangun Nusantara (SBN).

"Permintaan dari Wali Kota Kendari ini adalah untuk kepentingan biaya politik yang diperlukan oleh cagub, yang kebetulan adalah ayah dari yang bersangkutan," kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan dalam konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Kamis, 1 Maret 2018.

Asrun yang merupakan mantan Wali Kota dua periode itu maju di Pilgub Sulawesi Tenggara 2018 dengan didampingi Hugua. Keduanya diusung oleh PDI Perjuangan, PAN, PKS, Partai Hanura dan Partai Gerindra.

Total uang yang diterima Adriatma dari Hasman Hamzah sebesar Rp2,8 miliar. Uang itu diberikan secara bertahap, pertama sebesar Rp1,5 miliar dan terakhir Rp1,3 miliar.

"Total Rp2,8 miliar. Rp1,5 miliar diantaranya pengambilan dari bank dan ditambahkan Rp1,3 miliar dari kas pemberi PT SBN," pungkas Basaria.

Baca: Suap di Kendari Gunakan Kode 'Koli Kalender'

KPK menetapkan Wali Kota Kendari Adriatma Dwi Putra (ADP) dan sang ayah Asrun, yang merupakan calon Gubernur Sulawesi Utara sebagai tersangka suap pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemkot Kendari tahun 2017-2018.

Selain keduanya, penyidik juga menetapkan dua orang dari unsur swasta yakni Direktur Utama PT Sarana Bangun Nusantara (SBN) Hasmun Hamzah dan Mantan Kepala BPKAD Kota Kendari Fatmawati Faqih sebagai tersangka.



Dalam kasus ini, Adriatma diduga kuat telah menerima suap dari Hasmun Hamzah sebesar Rp2,8 miliar. Uang itu diberikan Hamsun Hamzah secara bertahap, pertama sebesar Rp1,5 miliar dan terakhir Rp1,3 miliar.

Kuat dugaan uang suap itu akan digunakan Adriatma untuk logistik kampanye sang ayah Asrun sebagai calon Gubernur Sulawesi Tenggara di Pilkada serentak 2018.

Tak hanya itu, dari hasil operasi tangkap tangan (OTT) tadi malam, tim mengamankan sejumlah barang bukti. Diantaranya, buku tabungan dengan keterangan adanya penarikan sebesar Rp1,5 miliar dan STNK serta kunci mobil yang diduga sebagai alat transportasi untuk membawa uang tersebut.

Atas perbuatannya, Hasmun Hamzah selaku pemberi suap dijerat dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 Juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sedangkan Adriatma, Asrun dan Fatmawati selaku penerima suap dijerat dengan Pasal 11 atau Pasal 12 huruf a atau b Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 Juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.


(YDH)

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

1 week Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA