Petinggi PT Brantas Abipraya Diperiksa KPK

Juven Martua Sitompul    •    Senin, 09 Oct 2017 12:23 WIB
ott kpk
Petinggi PT Brantas Abipraya Diperiksa KPK
Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Foto: MTVN/Hafidz Mubarak

Metrotvnews.com, Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengusut kasus dugaan suap proses perizinan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) Transmart di Cilegon. Kali ini, penyidik mengagendakan pemeriksaan terhadap lima saksi, dua di antaranya petinggi perusahaan yang terlibat dalam pengurusan izin Amdal tersebut.

Dua petinggi itu adalah Direktur Utama PT Brantas Abipraya (BA) Bambang E. Marsono dan Direktur PT Krakatau Industrial Estate Cilegon‎ (KIEC) Priyo Budiyanto. Keduanya akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Direktur Utama PT KIEC Tubagus Dony Sugihmukti (TDS).

"Mereka akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka TDS (Tubagus Donny Sugihmukti)," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Senin 9 Oktober 2017.

Sementara tiga saksi lain yang diperiksa merupakan pihak swasta. Ketiga saksi yakni Annie S. Handayani, Tirta Djaya, dan Syarif akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka yang sama.

KPK sebelumnya menetapkan Wali Kota Cilegon Tubagus Iman Ariyadi sebagai tersangka kasus dugaan suap perizinan kawasan industri di wilayah Cilegon. Selain Iman, KPK juga ikut menetapkan lima tersangka lain yakni, Kepala BPTPM Kota Cilegon Ahmad Dita Prawira; Hendry selaku pihak swasta; Dirut PT KIEC Tubagus Donny Sugihmukti.

Kemudian, Legal Manager PT KIEC Eka Wandoro dan terakhir Project Manager PT BA Bayu Dwinanto Utomo. Lima di antaranya terjaring OTT KPK pada Jumat 22 September hingga Sabtu 23 September 2017 dini hari, hanya Dony yang lolos.

Dalam kasus ini, Iman diduga kuat telah menerima suap Rp1,5 miliar untuk memuluskan proses perizinan Amdal Transmart yang akan dibangun di Lapangan Sumampir, Jalan Yasin Beji, Kebon Dalem, Kota Cilegon. Transaksi suap kali ini menggunakan modus baru.

Di mana pihak penyuap yakni, PT KIEC dan PT BA memberikan uang suap ke Iman melalui dana CSR pada Cilegon United Football Club. Saat penangkapan, penyidik menyita uang tunai Rp1,125 miliar dari perjanjian Rp1,5 miliar. 

Akibat perbuatannya, Iman dan Ahmad Dita sebagai pihak penerima dijerat Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001, juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. 

Sementara, Hendry, Tubagus Donny, Eka Wandoro, dan Bayu Dwinanto sebagai pihak pemberi dijerat Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001, juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.


(MBM)