Ketua KPK: Status Boediono Ditentukan Pada 14 Mei

Daviq Umar Al Faruq    •    Sabtu, 05 May 2018 02:29 WIB
bank century
Ketua KPK: Status Boediono Ditentukan Pada 14 Mei
Mantan Wakil Presiden Boediono memasuki mobil seusai menjalani pemeriksaan di gedung KPK Jakarta, Kamis (27/12). (Foto: Antara/Wahyu Putro A).

Malang: Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Agus Rahardjo mengatakan jika pihaknya terus mendalami dugaan keterlibatan mantan Wakil Presiden, Boediono dalam kasus dugaan korupsi Bank Century.

"Belum. JPU (Jaksa Penuntut Umum) dan penyidik hari ini masih kordinir di suatu tempat. Kemudian nanti harapannya tanggal 14 Mei mereka akan memberikan laporan pada pimpinan," kata Agus usai menghadiri diskusi terbuka di Universitas Brawijaya, Malang, Jumat, 4 Mei 2018.

Baca: KPK Diberi Waktu 3 Bulan Tetapkan Boediono Tersangka

Sebelumnya, KPK telah mengantongi nama-nama yang diduga terlibat kasus yang merugikan negara hingga Rp8 triliun tersebut. Dari sejumlah nama tersebut muncul nama Boediono.

"Kami masih mencari alternatif-alternatif angkah lebih lanjut terhadap kasus Century. Kita akan mendengarkan sekitar 14 Mei nanti. Status Boediono belum karena belum dilaporkan," jelas Agus.

Bukti keterlibatan Boediono dan sejumlah nama lainnya didapat setelah penyidik dan penuntut KPK menyelesaikan kajian dan analisis putusan kasasi kasus Century yang menjerat mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Budi Mulya.

Baca: KPK Pertajam Bukti untuk Jerat Boediono Cs di Kasus Century

Sementara itu, Budi Mulya dihukum majelis hakim Mahkamah Agung selama 15 tahun penjara. Sementara dalam dakwaan Jaksa KPK di tingkat pertama, Budi Mulya selaku Deputi Gubernur Bank Indonesia Bidang IV Pengelolaan Moneter dan Devisa didakwa memperkaya diri sebesar Rp1 miliar dari pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) Bank Century dan atas penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik.

Budi Mulya juga didakwa memperkaya pemegang saham Bank Century, Hesham Talaat Mohamed Besheer Alwarraq, dan Rafat Ali Rizvi, sebesar Rp3,115 miliar. Perbuatan Budi Mulya dinilai telah memperkaya PT Bank Century sebesar Rp1,581 miliar dan Komisaris PT Bank Century Robert Tantular sebesar Rp2,753 miliar.

Dia juga diduga menyalahgunakan wewenang secara bersama-sama dengan pejabat Bank Indonesia. Dalam dugaan korupsi pemberian FPJP Century, Budi Mulya didakwa bersama-sama dengan Boediono selaku Gubernur BI, Miranda S Goeltom selaku Deputi Senior BI, Siti Fadjriah selaku Deputi Gubernur Bidang VI, Budi Rochadi selaku Deputi Gubernur Bidang VII, Robert Tantular, dan Harmanus H Muslim.

Budi Mulya juga didakwa bersama-sama Boediono, Miranda, Siti, Budi Rochadi, Muliaman D Hadad selaku Deputi Gubernur Bidang V, Hartadi A Sarwono selaku Deputi Gubernur Bidang III, Ardhayadi M selaku Deputi Gubernur Bidang VIII, dan Raden Pardede selaku Sekretaris KSSK.

Namun, pada perjalanan kasus, KPK hanya menjebloskan Budi Mulya ke bui. KPK belum juga menjerat pihak lain padahal nama-nama besar yang diduga terlibat pada kasus korupsi pemberian FPJP Bank Century dan penetapan Bank Century sebagai Bank gagal berdampak sistemik itu kerap disebut dalam persidangan.


(DEN)