Eks Wabup Malang Mengaku jadi Makelar

Juven Martua Sitompul    •    Jumat, 13 Jul 2018 15:06 WIB
kasus suap
Eks Wabup Malang Mengaku jadi Makelar
Mantan Wakil Bupati Malang Achmad Subhan - Medcom.id/Juven Martua Sitompul.

Jakarta: Mantan Wakil Bupati Malang Achmad Subhan akhirnya memenuhi panggilan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ini pemanggilan ulang setelah sebelumnya Subhan mangkir dari panggilan penyidik sebagai saksi untuk tersangka Bupati nonaktif Mojokerto,  Mustofa Kamal Pasa (MKP).

"(Diperiksa) sebagai saksi," kata Subhan di Gedung KPK, Jakarta, Jumat, 13 Juli 2018.

Dalam kasus ini, Subhan mengaku mempertemukan PT Protelindo dan PT Tower Bersama dengan pemerintah Kabupaten Mojokerto. Dia mengklaim tak tahu menahu soal adanya praktik suap untuk memuluskan izin pembangunan menara tersebut.

"Makelaran, kurang tahu saya (suapnya), saya cuma dimintai tolong, saya mengenalkan kepada dinas, sudah gitu aja," ujar dia.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah menyatakan sampai saat ini Subhan masih menjalani pemeriksaan intensif. Subhan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Mustofa. 

"Pemeriksaan sedang dilakukan oleh penyidik," kata Febri.

(Baca juga: Mobil dan Jet Ski Milik Bupati Mojokerto Disita)

KPK sebelumnya menetapkan Mustofa sebagai tersangka dalam dua perkara, yaitu dugaan suap terkait izin pembangunan menara telekomunikasi di Kabupaten Mojokerto pada 2015 dan gratifikasi.

Tak hanya Mustofa, penyidik juga turut menetapkan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Mojokerto Zainal Abidin, Permit and Regulatory Division Head PT Tower Bersama Grup Ockyanto, dan Direktur Operasi PT Protelindo Onggo Wijaya sebagai tersangka.

Dalam kasus suap perizinan pembangunan menara telekomunikasi, Mustofa diduga menerima suap sebesar Rp2,7 miliar. Sementara pada kasus dugaan gratifikasi terkait proyek di lingkungan pemerintahan Kabupaten Mojokerto, Mustofa bersama Zainal diduga menerima Rp3,7 miliar.

Pada proses pengusutan kasus ini, penyidik KPK telah menggeledah kantor PT Tower Bersama di The Convergence Indonesia dan kantor PT Protelindo di Menara BCA. Dari penggeledahan itu, penyidik KPK menyita sejumlah dokumen dan surat elektronik yang terkait dengan dugaan suap tersebut.




(REN)