Saksi Eko Susilo Tegaskan Kepala Bakamla Atur Fee

Erandhi Hutomo Saputra    •    Selasa, 21 Mar 2017 05:45 WIB
kasus korupsi
Saksi Eko Susilo Tegaskan Kepala Bakamla Atur Fee
Deputi Bidang Informasi Hukum dan Kerjasama Bakamla Eko Susilo Hadi (kiri) memberikan keterangan saat menjadi saksi dalam sidang lanjutan kasus suap Bakamla - MI/Barry Fathahilah

Metrotvnews.com, Jakarta: Plt Sekretaris Utama Badan Keamanan Laut (Bakamla) Eko Susilo Hadi membeberkan peran Kepala Bakamla Laksamana Madya TNI Arie Soedewo dalam kasus korupsi pengadaan satelit pemantau pada 2016.

Arie menentukan jatah fee sebesar 15 persen dari total nilai proyek Rp222 miliar. Dari 15 persen itu, sebanyak 7,5 persen diperuntukkan Bakamla, sedangkan sisanya tidak ia ketahui.

"Pemahaman saya 15 persen itu dibagi dua. Sebesar 7,5 persen tidak tahu ke siapa, 7,5 persen ke Bakamla, dari bagian Bakamla baru (diperintahkan diberikan terlebih dahulu) 2 persen," ujar Eko.

Ia bersaksi untuk terdakwa Fahmi Darmawansyah di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (20/3). Fahmi merupakan pemilik PT Melati Technofo Indonesia, perusahaan yang menyuap pejabat Bakamla.

Eko yang juga mantan Deputi Bidang Informasi Hukum dan Kerja sama Bakamla telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

Penuturan Eko sesuai dengan dakwaan jaksa KPK yang menyatakan bahwa penentuan jatah dilakukan di ruangan Arie pada Oktober 2016.

Penjatahan itu disebutkan pertama kali ketika Arie dan staf khususnya, Ali Fahmi, berkunjung ke kantor Fahmi Darmawansyah pada Maret 2016. Saat itu, keduanya datang untuk menawari Fahmi 'main proyek' di Bakamla.

Terkait dengan informasi jatah fee tersebut, Eko mengaku diperintah Arie untuk menerima fee yang didahulukan sebesar 2 persen dan memberikannya kepada Direktur Data dan Informasi Bakamla sekaligus PPK dalam proyek tersebut Laksamana Pertama TNI Bambang Udoyo dan Kabiro Perencanaan dan Organisasi Bakamla Nofel Hasan masing-masing Rp1 miliar.

"Saya diberi tahu (Arie) kemudian saya diperintah 'Kau terima yang itu. Serahkan ke Pak Bambang dan Pak Nofel Rp1 (miliar)," ungkap dia.

Eko mengaku menerima uang dari Fahmi melalui Adami dan Hardy (anak buah Fahmi lainnya) sebanyak Rp2 miliar dalam bentuk dolar AS dan Singapura serta 10 ribu euro dan USD10 ribu saat kunjungan kerja ke Jerman.

Uang Rp2 miliar telah diamankan KPK saat operasi tangkap tangan. Untuk sisanya, ia berjanji akan dikembalikan ke KPK. "Saya akui saya salah," kata Eko menyesal.

Bambang juga mengaku menerima Rp1 miliar. Namun, Bambang berkilah uang bukan berasal dari Fahmi, melainkan dari Arie. Bambang mengaku sempat menolak.

Namun, Arie tidak bisa menerima penolakan, maka dirinya menerima uang tersebut.


(REN)