Ketika Novanto Bertemu Pedemo Pendukung KPK

Surya Perkasa    •    Jumat, 14 Jul 2017 16:46 WIB
korupsi e-ktp
Ketika Novanto Bertemu Pedemo Pendukung KPK
Ketua DPR Setya Novanto. Foto: Antara/Puspa Perwitasari.

Metrotvnews.com, Jakarta: Ketua DPR Setya Novanto mendapati peristiwa tak mengenakkan setelah diperiksa di Komisi Pemberantasan Korupsi. Dia harus bertemu dengan pedemo pendukung KPK.

Ketua Fraksi Golkar periode 2009-2014 itu diperiksa penyidik KPK terkait proyek KTP elektronik selama hampir 6 jam. Ketika keluar Gedung KPK, dia enggan bicara banyak soal pemeriksaannya.

"Pertanyaannya sama dengan yang di persidangan," kata Novanto saat keluar dari Gedung Merah Putih KPK, Kuningan Jaya, Jakarta, Jumat 14 Juli 2017.

Saat ditanya soal sejumlah pertemuan di Senayan terkait proyek KTP elektronik, Novanto juga irit bicara. "Tidak ada (pertemuan)," aku dia. 

Sementara di luar Gedung KPK, teriakan mahasiswa dari BEM Universitas Indonesia yang sedang menggelar aksi semakin keras. "Tolak, tolak hak angket. Tolak hak angket sekarang juga!"

Novanto yang ditemani oleh Sekretaris Jenderal Golkar Idrus Marham, terlihat terburu-buru meninggalkan KPK. Pewarta yang mengerubungi pun terlibat aksi saling dorong. Sejumlah mahasiswa yang mencoba mendekat dihalangi petugas.

Novanto langsung bergegas naik ke atas Fortuner Hitam B 1732 ZLO yang mengantarkannya. Ratusan mahasiswa berjaket kuning khas UI menyoraki Novanto saat mobil mendekati pintu keluar.

"Tangkap! Tangkap! Tangkap Novanto! Tangkap Novanto sekarang juga!"

Mereka berusaha menutup laju kendaraan. Namun, kendaraan rombongan Novanto bergegas melaju meninggalkan lokasi.

Dugaan keterlibatan Novanto dalam korupsi proyek KTP-el sempat disampaikan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin. Nazar menyebut Novanto dan mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum mengatur proyek ini.  Keterlibatan Novanto juga tertuang dalam dakwaan untuk terdakwa Irman dan Sugiharto. 


Mobil Ketua DPR Setya Novanto dikepung pedemo di KPK. Foto: MTVN/Surya Perkasa.

Novanto disebut kecipratan fee 10 persen dari proyek senilai Rp5,9 triliun. Uang tersebut, kata Nazar, berasal dari Paulus Tannos, pemilik PT Sandipala Arthaputra, perusahaan yang masuk anggota konsorsium Percetakan Negara Republik Indonesia. Konsorsium ini memenangi tender proyek KTP-el.

Keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi juga diperiksa KPK hari ini. Irvanto membeli saham PT Murakabi Sejahtera dari adik kandung Andi Agustinus alias Andi Narogong, Vidi Gunawan.

Saham tersebut dibelinya dengan harga yang murah. ‎Konsorsium Murakabi kemudian ikut dalam proses tender. Namun, mereka kalah. 

Baca: Ade Komarudin tak Kenal Andi Narogong

Andi Narogong sendiri sempat mengarahkan perusahaan yang ikut tender untuk menyusun spesifikasi dan proses tender. Andi juga disebut mengatur aliran uang ke sejumlah nama di sekitar proyek.

Sementara itu, dalam catatan KPK, proyek KTP-el tidak memiliki kesesuaian dalam teknologi yang dijanjikan pada kontrak tender dengan yang ada di lapangan. Sesuai perhitungan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), proyek itu merugikan negara Rp2,3 triliun.




(OGI)