KPK Mengantongi Percakapan Bos Lippo Group dengan Bupati Bekasi

Juven Martua Sitompul    •    Rabu, 07 Nov 2018 13:19 WIB
OTT Pejabat Bekasi
KPK Mengantongi Percakapan Bos Lippo Group dengan Bupati Bekasi
Juru bicara KPK Febri Diansyah - MI/Rommy Pujianto.

Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaku telah mengantongi komunikasi pihak-pihak yang terlibat dalam kasus dugaan suap perizinan proyek pembangunan Meikarta. Termasuk, percakapan CEO Lippo Group James Riady dan petinggi Lippo Group lain dengan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin.

"KPK telah mendapatkan bukti komunikasi sejumlah pihak terkait dugaan suap proyek Meikarta ini," kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Rabu, 7 November 2018.

Hari ini, Neneng diperiksa sebagai saksi dalam kasus suap Meikarta. Selain dimintai keterangan, penyidik juga mengambil sampel suara Neneng.

"Terhadap Neneng Hasanah Yasin, tadi diambil contoh suara untuk keperluan pembuktian," beber dia. 

Usai diperiksa, Neneng menyatakan bakal mengungkap pihak-pihak yang terlibat dalam kasus suap itu. Terlebih, Neneng telah mengajukan permohonan sebagai Justice Collaborator (JC).

Neneng mengaku pengambilan sampel suara diperlukan untuk mengungkap pihak lain yang terlibat, termasuk korporasi. Mengingat, sejumlah petinggi Lippo Group beberapa kali melakukan pertemuan dengan Neneng.

"(Soal keterlibatan pihak lain) Lihat faktanya saja, cuma cek voice," kata Neneng.

KPK baru-baru ini tengah gencar menelusuri sumber uang suap Meikarta, yang diduga berasal dari Lippo Group. Tercatat, mereka dari Lippo Group yang telah masuk ke ruang penyidikan untuk dimintai keterangan terkait hal ini yakni Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro, CEO Lippo Group James Riady, dan mantan Presiden Direktur PT Lippo Cikarang Tbk Toto Bartholomeus.

(Baca juga: Billy Sindoro-Bupati Bekasi Bahas Pembangunan RS Siloam)

Kemudian Presiden Direktur PT Lippo Karawaci Tbk Ketut Budi Wijaya, Corporate Affairs Siloam Hospital Group Josep Christoper Mailool, Direktur Keuangan PT Lippo Cikarang Tbk Soni dan Direktur Keuangan PT Lippo Karawaci Tbk Richard Setiadi.

Teranyar, giliran Direktur Keuangan PT Mahkota Sentosa Utama (PT MSU) Hartono diperiksa penyidik. Melalui Hartono, penyidik lebih banyak mengonfirmasi soal asal uang hingga proses penyuapan.

Dari pemeriksaan itu, terungkap juga adanya pertemuan-pertemuan antara petinggi Lippo Group dengan Neneng. Salah satunya, James Riady yang mengakui pernah bertemu dengan Neneng dengan alasan silaturahmi persalinan Neneng.

Tak hanya James, Billy Sindoro juga mengaku dua kali bertemu Neneng. Pertemuan pertama dilakukan untuk memberi selamat atas persalinan Neneng. Sedangkan pada pertemuan kedua, Billy dan Neneng membahas soal pembangunan Rumah Sakit (RS) Siloam di Meikarta.

Meikarta merupakan salah satu proyek prestisius milik Lippo Group. Penggarap proyek Meikarta ialah PT Mahkota Sentosa Utama, yang merupakan anak usaha dari PT Lippo Cikarang Tbk. Sementara PT Lippo Cikarang Tbk di bawah naungan Lippo Group.

Secara keseluruhan, nilai investasi proyek Meikarta ditaksir mencapai Rp278 triliun. Meikarta menjadi proyek terbesar Lippo Group selama 67 tahun grup bisnis milik Mochtar Riady itu berdiri.

Dalam kasus ini, Billy Sindoro diduga memberikan uang Rp7 miliar kepada Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin dan anak buahnya terkait pengurusan izin proyek pembangunan Meikarta. Uang itu diduga bagian dari fee yang dijanjikan sebesar Rp13 miliar terkait proses pengurusan izin proyek Meikarta.

(Baca juga: James Riady Akui Pernah Bertemu Bupati Bekasi)




(REN)