Pelaku Bisnis Gay Anak Korban Pelecehan

Arga sumantri    •    Minggu, 17 Sep 2017 16:16 WIB
pornografi
Pelaku Bisnis Gay Anak Korban Pelecehan
Konpers bisnis pornografi gay anak - MTVN/Arga Sumantri.

Metrotvnews.com, Jakarta: Tiga pelaku bisnis pornografi gay anak tak ujug-ujug masuk ke bisnis haram itu. Ketiganya pernah menjadi korban. 

"Para pelaku dulunya menjadi korban, saat para pelaku masih anak-anak," beber Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Kombes Adi Deriyan Jayamarta di Markas Polda Metro Jaya, Minggu 17 September 2017.

Adi mengatakan, fakta itu menunjukkan bahayanya dampak perilaku pelecehan seksual terhadap anak. Ia meminta semua pihak perlu memberikan perhatian khusus agar korban-korban pelecehan kelak tidak menjadi pelaku.

"Untuk itu kita harus melakukan upaya-upaya dengan pihak terkait agar korban tidak menjadi pelaku seperti yang baru kita tangkap ini," kata Adi.

Sekjen Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Henny Hermaoe, menambahkan, ancaman orientasi seksual yang menyimpang nyata membayangi anak-anak Indonesia. Potensi ancaman semakin meningkat dengan perkembangan teknologi internet.

"Kita ingin mengedukasi anak dan ibu setiap berkunjung ke sekolah, agar menerapkan internet sehat," kata Henny.

(Baca juga: Peran 3 Pelaku Bisnis Gay Anak)

Henny mengatakan, upaya mencegah dari bahaya kejahatan anak bisa dilakukan dengan mengajak pihak ketiga. Misalnya, penyedia layanan internet.

"Apabila diterapkan ini akan membantu kepolisian tentunya," ucap Henny.

Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya membongkar sindikat pelaku bisnis pornografi anak sesama jenis. Mereka biasa menjualbelikan foto atau gambar persetubuhan laki-laki dewasa dengan anak laki-laki.

Ketiga pelaku yang ditangkap yakni Y, H alias Uher, dan I. Ketiganya memiliki jaringan internasional di 49 negara.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal berlapis, yakni Pasal 27 ayat (1) UU RI Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE dan Pasal 29 UU RI Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Polisi juga menjerat pelaku dengan Pasal 4 ayat (2) UU RI Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dan Pasal 30 UU RI Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.
 


(REN)