Petinggi Tower Bersama Dipanggil KPK

Juven Martua Sitompul    •    Rabu, 25 Jul 2018 11:19 WIB
kasus suap
Petinggi Tower Bersama Dipanggil KPK
Juru bicara KPK Febri Diansyah/MI/Rommy Pujianto

Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil Chief Project & Implementation PT Tower Bersama Infrastruktur Tbk Yogi Pamungkas. Dia akan diperiksa sebagai saksi kasus suap izin pembangunan menara telekomunikasi di Kabupaten Mojokerto pada 2015.

"Yogi Pamungkas diperiksa sebagai saksi untuk tersangka MKP (Bupati nonaktif Mojokerto Mustafa Kamal Pasa)," kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Rabu, 25 Juli 2018.

Belum diketahui detail apa yang akan digali penyidik. Namun, pemeriksaan Yogi Pamungkas diduga untuk mendalami keterlibatan korporasi dalam kasus tersebut.

Pendalaman keterlibatan  korporasi juga mencuat setelah tim penyidik intensif memeriksa sejumlah petinggi PT Tower Bersama dan anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Profesional Telekomumikasi Indonesia (Protelindo).

KPK telah memeriksa Presiden Direktur PT Tower Bersama Infrastruktur Tbk Herman Setya Budi; Direktur PT Tower Bersama Budianto Purwahjo; serta Operation Maintenance PT Protelindo Handi Prabowo.

KPK juga sempat menjadwalkan pemeriksaan Division Head Finance and Treasury PT Tower Bersama Infrastructure Alexandra Yota Dinarwanti. Namun, Yota mangkir.

Lembaga Antirasuah bahkan telah menggeledah kantor PT Tower Bersama di The Convergence Indonesia dan kantor PT Protelindo di Menara BCA. Penyidik menyita sejumlah dokumen dan surat elektronik, termasuk rekening koran yang diduga berkaitan dengan kasus suap tersebut.

KPK menetapkan Bupati nonaktif Mojokerto Mustafa Kamal Pasa sebagai tersangka dalam dua perkara, yakni dugaan suap terkait izin pembangunan menara telekomunikasi di Kabupaten Mojokerto pada 2015 dan gratifikasi.

Penyidik juga menetapkan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Mojokerto Zainal Abidin, Permit and Regulatory Division Head PT Tower Bersama Grup Ockyanto, dan Direktur Operasi PT Protelindo Onggo Wijaya sebagai tersangka.

Dalam kasus suap pembangunan menara telekomunikasi, Mustofa diduga menerima suap Rp2,7 miliar. Sedangkan pada kasus dugaan gratifikasi terkait proyek di lingkungan pemerintahan Kabupaten Mojokerto, Mustofa bersama Zainal diduga menerima Rp3,7 miliar.


(OJE)