Pengelola Hotel dan Kafe Penerima Gula Rafinasi Dipanggil Bareskrim

Arga sumantri    •    Selasa, 14 Nov 2017 13:00 WIB
gula
Pengelola Hotel dan Kafe Penerima Gula Rafinasi Dipanggil Bareskrim
Ilustrasi pemusnahan gula rafinasi/MI/Susanto

Jakarta: Sebanyak 56 pengelola hotel dan kafe dari sejumlah kota besar di Indonesia dipanggil Bareskrim Polri. Pemanggilan terkait kasus penyimpangan distribusi gula rafinasi.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya mengatakan, ke-56 hotel dan kafe yang dipanggil merupakan penerima gula Rafinasi dari PT Crown Pratama (CP). Pemanggilan, kata Agung, bersifat rapat koordinasi.

"Rapat bertujuan untuk memperbaiki tata kelola pendistribusian gula khususnya yang diperuntukkan untuk konsumsi hotel dan kafe," kata Agung saat dikonfirmasi, Selasa 14 November 2017.

Agung tidak merinci 56 perwakilan hotel dan kafe yang dipanggil. Ia menyebut pemanggilan merupakan sarana perbaikan bagi pelaku usaha perhotelan dan kafe. Pemanggilan juga dimaksud memperbaiki sistem tata kelola bidang pendistribusian gula.

"Sehingga dapat memberikan hukum yang bermanfaat bagi masyarakat," ujar Agung.

Polisi menetapkan BB, Direktur Utama (Dirut) PT Crown Pratama (CP), sebagai tersangka kasus dugaan penyimpangan distribusi gula. BB juga telah ditahan.

Pengungkapan kasus yang merugikan kesehatan masyarakat ini bermula saat penyidik menggeledah Kantor PT CP pada 13 Oktober 2017. Dalam operasi itu, polisi menemukan penyimpangan distribusi gula Rafinasi.

Setidaknya 20 sak gula kristal rafinasi dengan masing-masing seberat 50 Kg disita aparat. Ada juga 82.500 sachet gula rafinasi siap konsumsi dan bungkus kosong kemasan sachet dengan merek hotel dan cafe.

BB dijerat Pasal 139 jo Pasal 84 dan Pasal 142 jo Pasal 91 Undang-undang No 18 Tahun 2012 tentang Pangan, dan Pasal 62 Jo lasal 8 (1) huruf a UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.


(OJE)