Djarot Anggap Aksi Saracen Kejahatan Luar Biasa

Ilham wibowo    •    Sabtu, 26 Aug 2017 15:15 WIB
ujaran kebencianhoax
Djarot Anggap Aksi Saracen Kejahatan Luar Biasa
Ilustrasi: Tetap waspada di media sosial. Foto: MTVN/Mohammad Rizal.

Metrotvnews.com, Jakarta: Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menganggap modus yang digunakan grup Saracen adalah kejahatan luar biasa. Warga pun perlu waspada dan tidak mudah diadu domba dengan hoaks.

"Ini kejahatan yang luar biasa yang hanya berorientasi pada uang. Kita jangan sampai mudah terprovokasi," kata Djarot di Balai Agung, Gedung Balai Kota, Jakarta Pusat, Sabtu 26 Agustus 2017.

Menurut dia, publik harus bijak dalam menggunakan media sosial. Pasalnya, munculnya sindikat Saracen adalah ancaman yang dapat memecah belah bangsa.

"Warga masyarakat harus betul-betul waspada, cerdas, dan memilah-milah untuk tidak mudah diadu domba dengan media sosial yang digerakkan oleh robot dan oknum-oknum yang memecahbelahkan bangsa seperti ini," ujar dia. 

Dia mendorong kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini. "Kepolisian bisa untuk bisa melacak dan menindak tegas. Bukan hanya kelompok Saracen ini dan pelakunya tetapi juga siapa saja yang memesan," kata Djarot. 

Polri menciduk tiga pengurus Saracen, pada Rabu 23 Agustus. Mereka adalah MFT, 43, yang membidangi media dan informasi situs Saracennews.com; SRN, 32, koordinator grup wilayah; dan JAS, 32, ketua Saracen.

Dari tangan mereka, polisi mengamankan beberapa barang bukti. Di antaranya 58 buah kartu telepon berbagai operator, tujuh unit telepon genggam, empat buah kartu memori, enam buah flash disk, enam buah hard disk, dan dua unit komputer jinjing.

JAS dijerat Pasal 46 ayat 2 jucto Pasal 30 ayat 2 dan atau Pasal 46 ayat 1 juncto Pasal 30 ayat 1 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Dia terancam tujuh tahun penjara.

Baca: Hoaks Laris Bukti Literasi Masyarakat Rendah

MFT dijerat Pasal 45A ayat 2 juncto pasal 28 ayat 2 UU ITE dan atau Pasal 45 ayat 3 jo Pasal 27 ayat 3 UU ITE dengan ancaman 10 tahun penjara. Sementara itu, SRN dijerat dengan Pasal 45A ayat 2 juncto Pasal 28 ayat 2 UU ITE dan atau Pasal 45 ayat 3 jo Pasal 27 ayat 3 UU ITE dengan ancaman 10 tahun penjara.

Sementara itu, kelompok Saracen sudah eksis menyebarkan ujaran kebencian berkonten SARA sejak November 2015. Hingga saat ini, lebih dari 800.000 akun tergabung dalam jejaring grup Saracen.

Mereka menyebarkan isu SARA melalui grup Facebook Saracen News, Saracen Cyber Team, situs Saracennews.com, dan grup lain yang menarik minat warganet. Aksi itu dilakukan berdasarkan pesanan. 

Para pelaku menyiapkan proposal yang disebar kepada pemesan. Setiap proposal dipatok harga puluhan juta rupiah. Mereka lalu memasang hoaks melalui medianya, tergantung permintaan. 


(OGI)