Mengulas Kata 'Ndeso' dari Perspektif Linguistik

Lis Pratiwi    •    Jumat, 14 Jul 2017 17:28 WIB
kaesang pangarep
Mengulas Kata 'Ndeso' dari Perspektif Linguistik
Kaesang Pangarep (bertopi). Foto: Metrotvnews.com/M. Risyal Hidayat

Metrotvnews.com, Jakarta: Beberapa waktu lalu, sebuah video blog (vlog) yang diunggah Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Joko Widodo, hangat diperbincangkan. Pasalnya, Kaesang dilaporkan ke polisi akibat konten dalam vlog tersebut, salah satunya pengucapan kata 'ndeso'.

Ahli Bahasa Bambang Kaswanti Purwo mengatakan makna kata 'ndeso' perlu dibedakan antara makna kata sebagai kata (literer) dan makna kata yang diperluas atau kata kiasan. Makna kedua jenis kata ini dapat berjauhan dan tak berkaitan satu sama lain.

"Contohnya yang dikatakan sebagai 'kamar kecil' bisa saja luas ruangnya. Atau kata 'biru' pada 'telaga biru' berbeda dengan arti dalam 'darah biru'," kata Bambang dalam pernyataannya kepada Metrotvnews.com, Kamis 13 Juli 2017.

Selain itu, saat kata dipakai pada konteks komunikasi, bisa saja pengucapan kata itu sesungguhnya tidak tepat. Pemakaian kata belum tentu tepat untuk menggambarkan sesuatu atau memberikan komentar pada sesuatu.

Bambang mencontohkan seorang anak usia sekolah dasar sedang menjalani hukuman menyapu halaman depan rumahnya. Dia justru mendapat pujian 'rajin' dari tetangga yang lewat depan rumah. Padahal, sang ibu tahu apa yang dilakukan anaknya merupakan bagian dari hukuman.

Bambang menambahkan penggunaan dua kata atau lebih dapat dikatakan sama makna atau bersinonim, tapi tidak ada kesamaan secara mutlak atau penuh. Dua kata yang bersinonim dapat saling menggantikan, tetapi tidak dalam setiap konteks. Contohnya, orang ketika tenggelam akan teriak 'tolong', bukan 'bantu' meski punya arti sama.

"Ada butir makna yang tumpang tindih pada dua kata yang bersinonim, tetapi di antara butir-butir makna itu ada yang berbeda," kata dia.

Aksi Kaesang di dalam vlog. Foto: Tangkapan gambar Youtube

Perbedaan kata 'ndeso'

Mengenai kata 'ndeso, Bambang mengatakan ada dua pengertian, yakni sebagai kata biasa dengan makna literer. Seperti kalimat 'Dia wong ndeso' yang berarti 'orang dari desa". Atau sebagai kata kiasan seperti 'penampilannya ndeso' yang artinya tak dapat dijelaskan secara pendek.

"Kata 'ndeso' tidak ada padanannya di dalam bahasa Indonesia, meskipun ada yang mencoba
memadankannya dengan kata 'kampungan'. Tetapi, kata itu dapat bersinonim pula dengan kata 'norak'," tutur Bambang.

Menurutnya, pengucapan 'ndeso' biasa disampaikan di antara penutur yang akrab dan dalam suasana santai dan bersenda gurau. Di kalangan Jawa, siapa pun, saat mendengar atau dikenai sebutan 'ndeso', tidak akan timbul rasa marah, apalagi sampai jadi bertengkar atau protes.
 

'Ndeso' bisa berkonotasi positif, tetapi 'kampungan' selalu negatif
Bambang Kaswanti Purwo


"Lain halnya kalau dikatakan 'norak' atau 'kampungan'. Seseorang bisa menjadi marah saat dibilang 'norak'. Akan lebih marah jika dikatakan 'kampungan'," imbuhnya. Sebab, Bambang mengatakan, ada nuansa merendahkan pada makna kata 'norak' dan 'kampungan'.

Mereka yang disebut kampungan dianggap tidak tahu sopan santun, tidak terdidik, atau kurang ajar. Namun, tidak ada unsur merendahkan pada pengucapan kata 'norak', karena artinya lebih kepada berlebihan atau aneh.

"Orang disebut ndeso, norak, atau kampungan karena ada suatu kekurangan, tapi beda hal apanya yang kurang. 'Ndeso' bisa berkonotasi positif, tetapi 'kampungan' selalu negatif," kata dia.

Kaesang di antara Paspampres. Foto: Metrotvnews.com/Ahmad Rofahan

Makna 'ndeso' Kaesang

Dalam kaitannya dengan vlog Kaesang, Bambang mengatakan terdapat dua konteks pengucapan 'ndeso'. Pertama pada konteks percakapan atau dialog. Kedua tidak dalam percakapan, tetapi berupa komentar terhadap orang lain, yaitu kelompok anak-anak yang berdemo mengatakan "Bunuh Ahok".

"Ada sedikit perbedaan mengenai pemakaian kata 'ndeso'. Pertama, antara yang terarah pada persona ketiga misalnya 'dia' atau 'mereka'. Dan pada persona kedua seperti 'kamu'," terang Bambang.

Pada pengucapan terarah ke persona ketiga ini, lanjut Bambang, dalam istilah Jawa ujarannya berupa 'grenengan' artinya 'berbicara kepada dirinya sendiri'. Sifatnya berupa keluhan, tetapi keluhan yang disuarakan atau bisa terdengar.

Bambang menambahkan pengucapan kata 'ndeso' yang tertuju pada persona ketiga ini berupa ekspresi yang menyatakan kekesalan untuk ditujukan pada diri sendiri atau monolog. Namun, pengucapannya tersurat dan bisa terdengar orang lain.

"Ini bukan ekspresi yang dimaksudkan untuk membuat orang lain marah," kata dia.




(UWA)