Sepak Terjang JAD Teror Indonesia

Lukman Diah Sari    •    Sabtu, 17 Jun 2017 03:23 WIB
terorisme
Sepak Terjang JAD Teror Indonesia
Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian (kiri) didampingi Wakapolri Komjen Syafruddin menjawab pertanyaan anggota dewan dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (22/2). Foto: MI/Susanto.

Metrotvnews.com, Jakarta: Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, pihaknya telah menemukan hubungan langsung pelaku peledakan bom bunuh diri, Ahmad Sukri dengan Bahrum Naim. Namun dia enggan menyebut dari mana komunikasi Ahmad Sukri dan Bahrum Naim.

"Kalau kita lihat pasca 2013 hampir semua kasus teroris melibatkan JAD yang sebelumnya bernama Tauhid Waljihad yang dipimpin Aman Abdurrahman," kata Tito di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat 16 Juni 2017.

Tito menerangkan, motif teror di Indonesia berlatar dari ISIS sentral di Raqqa, Suriah. Dengan penghubung melalui Bahrum Naim dan Bahrumsyah yang nyatanya masih hidup. Kemudian ada pula, Abu Jandal yang disebut-sebut telah tewas.

"Yang paling aktif Bahrun Naim, dan operator di Indonesia adalah JAD. Mereka memiliki sel-sel, bukan hanya titik, sel ini sistematis ada namanya mudiriyah, di bawahnya ada namanya qoriah, di bawahnya baru namanya sel kecil. Ini udah kita deteksi," jelas Tito.

Terbentur Undang-undang

Namun, lanjut Tito, meskipun sudah mampu melalukan deteksi dini. Pihaknya masih terbentur undang-undang terkait terorisme. Yang diketahui kini tengah dikebut proses revisi agar bisa segera dilakukan penegakan hukum terhadap dugaan munculnya bibit teror.

"Persoalannya cuma satu, Undang-undang kita enggak cukup untuk mengkriminalisasi perbuatan awal mereka. Dalam Undang-undang diperbolehkan untuk dikriminalisasi organisasi terorisme baik oleh kepolisian maupun BNPT," beber Tito.

Mantan Kapolda Metro Jaya itu menyebut, seluruh rangkaian peristiwa dimulai dari Tuban hingga Thamrin dibelakangi oleh JAD. Dia beranggapan, bila Undang-undang yang ada saat ini bisa dilengkapi kriminalisasi perbuatan awal. Pasti bisa mencegah aksi teror.

"Misal siapa aja yang jadi anggota JAD sebagai organisasi teroris, dapat dipidana, saya yakin enggak lama bisa kita proses kelompok ini," tegas Tito.

Lebih lanjut, sejumlah daerah telah dipetakan oleh Densus 88 Antiteror Polri, "Pimpinan Aman Abdurrahman, ditangkap di Lamongan Anshori pimpinan lapangannya, kemudian terjadi pembalasan di Tuban, polres Banyumas, pembalasan lagi di Kampung Melayu. Itu dikoordinasi juga dengan Bahrun Naim," pungkas Tito.


(DEN)

KPK Masih Telusuri Dugaan Keterlibatan 7 Penyidik di Kasus KTP-el

KPK Masih Telusuri Dugaan Keterlibatan 7 Penyidik di Kasus KTP-el

2 hours Ago

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan pemeriksaan internal terhadap tujuh orang penyidi…

BERITA LAINNYA