SBY Curhat Laporannya di Bareskrim Mandek

Whisnu Mardiansyah    •    Kamis, 01 Feb 2018 08:54 WIB
sbyantasari azharkorupsi e-ktp
SBY Curhat Laporannya di Bareskrim Mandek
SBY--Antara/Zabur Karuru

Jakarta: Dalam sebuah rekaman yang didapat Medcom.id, Presiden ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono beraudiensi dengan beberapa orang. Dalam isi rekaman itu, salah satunya SBY mengeluhkan laporan dirinya ke Bareskrim Polri terkait pencemaran nama baik oleh mantan Ketua KPK Antasari Azhar yang tak kunjung diproses. 

"Antasari melempar tuduhan jelang pemungutan suara Pilkada DKI dulu, resmi saya sebagai warga negara bukan sebagai mantan presiden menggunakan hak hukum saya resmi mengadukan kepada kepolisian," keluh SBY dalam rekaman tersebut.

Baca: SBY Duga Ada Skenario Dibalik Penyebutan Namanya di Sidang KTP-el

 
Namun, laporannya ke Bareskrim Polri pada saat itu tak kunjung diproses. SBY sadar posisinya yang bukan lagi sebagai penguasa, mungkin salah satu alasan laporannya mandek. 

"Kalau seperti itu bagaimana kita dapat keadilan yang benar. Mungkin kalau masih berkuasa, cepat sekali kalau ada yang menyerang beramai-ramai. Kalau enggak punya apa-apa harapan kita fair lah," ucapnya.

Jika hukum benar-benar ditegakkan, semestinya laporan itu kata SBY bisa cepat diproses. Ke depan, SBY pikir-pikir akan menempuh langkah hukum jika ada kasus atau isu yang merugikan dirinya. 

"Saya pikirkan lagi mana yang paling bagus. Saya juga tidak ingin terburu-buru tidak ingin asal membawa ke ranah hukum," pungkasnya.

Baca: SBY Balik Melaporkan Antasari ke Bareskrim
 
SBY melaporkan mantan Ketua KPK Antasari Azhar ke Bareskrim Polri, Februari tahun lalu. Pelaporan ini dilakukan oleh tim kuasa hukum yang dipimpin langsung oleh Wakil Sekjen Demokrat, Didi Irawadi Syamsuddin. Didi menyebut, laporannya terkait dugaan fitnah dan pencemaran nama baik.

Baca: Polisi Tindaklanjuti Laporan SBY soal Antasari

Sebelumnya, Antasari melaporkan dugaan tindak pidana persangkaan palsu ke Bareskrim Polri yang menyeret SBY dan Harry Tanoesoedibjo. Bersama adik mendiang Nasrudin Zulkarnain, Andi Samsudin, Antasari melaporkan pesan singkat (SMS) misterius yang masuk ke telepon genggam Nasrudin.

Dalam jumpa pers, Antasari menyebut dirinya dikriminalisasi SBY dalam kasus kematian Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen.

Sebelum kasus kematian Nasrudin, Antasari mengaku ditemui Hary Tanoe dengan membawa pesan dari Cikeas, daerah yang merujuk pada tempat tinggal keluarga SBY di Puri Cikeas, Bogor. Hary menyampaikan agar Antasari tidak menahan Aulia Pohan, besan SBY.

Tapi, Antasari tidak bisa menuruti kemauan itu. KPK menetapkan mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Aulia Pohan sebagai tersangka dugaan korupsi dalam aliran dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) sebesar Rp100 miliar yang digunakan oleh Bank Indonesia. November 2008, ia ditahan.

Pada 2009, Antasari dibelit kasus pembunuhan terhadap Nasrudin. Pada 11 Februari 2010, Antasari divonis hukuman penjara 18 tahun karena terbukti bersalah turut serta melakukan pembujukan untuk membunuh Nasrudin.



(YDH)