KPK Apresiasi Profesionalitas Dokter RSCM dan IDI

Juven Martua Sitompul    •    Kamis, 14 Dec 2017 12:36 WIB
korupsi e-ktpsetya novanto
KPK Apresiasi Profesionalitas Dokter RSCM dan IDI
Terdakwa kasus dugaan korupsi KTP elektronik Setya Novanto meninggalkan ruangan disela sidang perdana di Pengadilan Tipikor Jakarta. Foto: Antara/Wahyu Putro A.

Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengapresiasi tim dokter ahli dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Pasalnya, mereka profesional saat memeriksa terdakwa korupsi KTP-el Setya Novanto dalam sidang pembacaan dakwaan di Pengadilan Tipikor Jakarta kemarin.

"KPK ucapkan terima kasih kepada tim dokter ahli RSCM dan IDI," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Kamis 14 Desember 2017.

Menurut Febri, dalam upaya pemberantasan korupsi, lembaganya sangat membutuhkan dukungan dari semua pihak. Kehadiran tim dokter yang independen dapat membantu membongkar 'drama' dari para tersangka.

Dalam sidang perdananya, Novanto sempat mempertontonkan 'drama' yang membuat majelis hakim geram. Ketua nonaktif DPR itu berulang kali bungkam saat hakim melayangkan sejumlah pertanyaan sederhana semisal identitas.

Akibat ulah mantan Ketua Umum Partai Golkar itu, sidang diskors tiga kali. Sidang dihentikan karena majelis hakim meminta tim dokter dari RSCM dan IDI yang disiapkan KPK memeriksa kesehatan Novanto.

Dari hasil pemeriksaan, Novanto dinyatakan sehat dan bisa menjalani sidang. Namun, Novanto lagi-lagi berulah. Dia terus mematung dan menolak menjawab semua pertanyaan majelis hakim. Akhirnya majelis hakim memutuskan melanjutkan sidang tanpa menggubris sikap Novanto.

"Apa yang terjadi sejak pertengahan November dan kemarin di sidang KTP-el kami harap ke depan jadi pembelajaran bagi semua pihak yang jadi tersangka, terdakwa atau bahkan saksi agar tidak menggunakan alasan sakit yang dapat menghindari atau menunda proses hukum," tegas Febri.

Baca: ?Gugatan Praperadilan Novanto Gugur

Febri menegaskan Lembaga Antirasuah tidak akan main-main dalam menjerat pihak yang mencoba merekayasa kondisi apa lagi membantu seseorang tersangka atau terdakwa untuk menghambat proses hukum. Dia berharap 'sandiwara' Novanto tidak lagi terjadi pada sidang berikutnya.

"Kami percaya dengan contoh yang diberikan IDI dan RSCM, hal tersebut tidak perlu terjadi di dunia medis. Kalaupun ada kondisi benar-benar sakit tentu dari hasil pemeriksaan yang objektif akan terlihat," pungkas Febri.




(OGI)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

1 week Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA