Penyalahgunaan Carisoprodol Merusak Ginjal dan Hati

Lukman Diah Sari    •    Sabtu, 16 Sep 2017 15:49 WIB
obat berbahaya
Penyalahgunaan <i>Carisoprodol</i> Merusak Ginjal dan Hati
Sekretaris Komite Obat dan Pengobatan Komplementer PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Andi Irwan Irawan Asfar. Foto: MTVN/Lukman Diah Sari

Metrotvnews.com, Jakarta: Obat yang mengandung Carisoprodol disebut telah ditarik dari peredaran sejak 2013 lalu. Namun, obat terlarang yang adiktif itu nyatanya masih banyak ditemukan. Puluhan anak dan remaja jadi korban penyalahgunaan obat mengandung Carisoprodol, menyebabkan mereka berhalusinasi dan 'gila'.

Sekretaris Komite Obat dan Pengobatan Komplementer PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Andi Irwan Irawan Asfar mengatakan, penyalahgunaan paracetamol caffeine carisoprodol (PCC) tak hanya bakal berpengaruh pada kondisi psikis, tapi juga organ vital.

"Kalau dipakai berlebihan itu bisa muncul efeknya, ginjal bisa rusak, hati bisa kena juga," kata Irwan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu 16 September 2017.

(Baca: Pil PCC Mengandung Karisoprodol yang Izin Edarnya Ditarik 2013)

Dia membeberkan, fungsi dari obat tersebut sebelumnya sebagai depresan atau relaksan, atau mengendurkan otot dan memberi rasa nyaman. Biasa digunakan setelah operasi.

"Tapi ini digunakan dalam keadaan normal, jadi fungsinya tak terlu bermanfaat. Dia mengkonsumsi melebihi jadi overdosis," bebernya.

Penggunaan berlebihan, justru menimbulkan rasa cemas dan tegang hingga berhalusinasi. Dia mencontohkan, seperti pada video yang viral, korban melihat kubangan namun dalam halusinasinya adalah laut. Seakan sedang berenang di laut, padahal berada di kubangan.

"Itu baru awal. Kemudian muncul kerusakan organ di hati dan ginjal," tegasnya.

(Klik juga: Puluhan Ribu Pil PCC Ditemukan di Makassar)

Dia menduga, anak-anak yang menyalahgunakan PCC belum terlalu lama mengkonsumsi dilihat dari efek yang ditimbulkan.  

Dia mengingatkan, bila sudah merusak organ maka korban bakal diharuskan berobat. Setiap kasus penyalah guna, kata dia, bakal berbeda. Tergantung pada tingkatan dosis yang pernah dikonsumsi penyalah guna.

"Kalau masih ringan mungkin menghentikan obat, pengawasan dr keluarga mungkin bisa. yang berat munngkin perlu rehabilitasi atau check-up," jelasnya.

(Berita terkait: Dari Pasar Pramuka Jakarta, PCC Didistribusi Hingga Papua)


(SUR)