Moratorium tak Menghentikan Pengiriman TKI Ilegal

   •    Jumat, 11 Aug 2017 15:22 WIB
tki ilegal
Moratorium tak Menghentikan Pengiriman TKI Ilegal
Ilustrasi. Seorang TKI menunjukkan identitas paspor. (ANTARA/Ismar Patrizki)

Metrotvnews.com, Jakarta: Migrant Care menyebut sindikat perdagangan orang ke negara-negara Timur Tengah seperti Abu Dhabi dan Suriah masih terus terjadi kendati pemerintah telah memoratorium pengiriman tenaga kerja Indonesia untuk bekerja di luar negeri. 

Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo mengatakan praktik perdagangan orang dilakukan masih dilakukan untuk memenuhi permintaan pasar yang memang selama beberapa tahun terakhir sulit merekrut pekerja, terutama di sektor informal.

"Permintaannya tinggi sementara supply-nya terbatas sehingga satu-satunya cara adalah mengirim mereka dengan modus penempatan TKI tapi sebenarnya ini adalah modus sindikat perdagangan manusia," ujar Wahyu dalam Metro Siang, Jumat 11 Agustus 2017.

Menurut Wahyu beberapa sponsor atau PPTKIS yang melakukan perekrutan TKI untuk bekerja di sektor informal negara-negara Timur Tengah tergiur dengan harga yang cukup tinggi. Sebelum moratorium, biaya untuk mengambil TKI dari Indonesia sekitar 1.000-2.000 dolar per orang. Namun setelah ada moratorium dan sulitnya memenuhi suplay pekerja, harga naik drastis hingga mencapai 6.000 dolar per orang. 

"Ini yang mungkin menyebabkan PPTKIS tetap merekrut calon-calon TKI baik yang resmi maupun tidak. Kebanyakan mereka merekrut dari daerah-daerah yang memang tidak tahu bahwa sudah ada moratorium," kata Wahyu.

Menurut Wahyu, modus yang dilakukan beragam. Dia mengatakan pernah mewawancarai sekitar 3.000 orang di bandara yang akan berangkat ke Timur Tengah. Para calon TKI ini beralasan bahwa mendapatkan panggilan visa dan sebelumnya pernah bekerja di negara tersebut dan akan kembali lagi bekerja usai cuti, padahal kenyataannya tidak.

Kemudian tak jarang PPTKIS juga menggunakan mekanisme umrah untuk menempatkan TKI ke negara-negara Timur Tengah. Para calon TKI ini memang melakukan umrah namun tidak kembali ke Tanah Air hingga akhirnya berstatus overstyayer.

Kadang, modus lain seperti kunjungan biasa pun di lakukan. Sebab di beberapa negara di Timur Tengah ada yang menerapkan visa on arrival dimana orang bisa mencari negara tujuan untuk penempatan di Suriah atau Abu Dhabi menggunakan negara transit di Yordania dan Uni Emirat Arab.

"Dan kebanyakan memang pekerja yang masih anak-anak, karena mereka cenderung mudah dieksploitasi atau kadang orang tuanya diberikan uang lebih dulu agar mau melepas anaknya," jelas Wahyu.




(MEL)