Dosa Aman Abdurrahman di Mata Jaksa

Fachri Audhia Hafiez    •    Jumat, 18 May 2018 13:56 WIB
terorisme
Dosa Aman Abdurrahman di Mata Jaksa
Terdakwa kasus terorisme Aman Abdurrahman menjalani sidang dengan agenda pembacaan tuntutan di PN Jakarta Selatan, Jakarta. Foto: MI/Bary Fathahilah.

Jakarta: Jaksa penuntut umum (JPU) mempertimbangkan beberapa hal yang memberatkan bagi Aman Abdurrahman, terdakwa otak beberapa aksi terorisme. Alhasil, Korps Adhyaksa menuntut Aman dihukum mati. 

Jaksa Mayasari saat membacakan tuntutan memaparkan hal yang memberatkan adalah karena Aman residivis dalam kasus terorisme. Aksinya pun dianggap membahayakan kehidupan masyarakat.

"Terdakwa adalah penggagas, pembentuk, dan pendiri Jamaah Ansharud Daulah (JAD), organisasi yang jelas-jelas menentang Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dianggap kafir serta harus diperangi," kata Jaksa Mayasari, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Jumat, 18 Mei 2019.

Menurut jaksa, perbuatan Aman telah menyebabkan banyak korban meninggal dan luka berat. Perbuatannya telah menghilangkan masa depan seorang anak yang meninggal di tempat kejadian dalam kondisi cukup mengenaskan.

"Seorang anak dengan luka bakar lebih 90 persen serta lima anak mengalami luka berat, yakni kondisi luka bakar dan sulit dipulihkan kembali seperti semula," ucap Mayasari.

Pemahaman terdakwa tentang syirik demokrasi, lanjut Mayasari, telah dimuat dalam blog millaibrahim.wordpress.com. Pemahaman tersebut dapat diakses secara bebas sehingga dapat memengaruhi banyak orang.

Baca: Aman Abdurrahman Dituntut Hukuman Mati

Di sisi lain, Mayasari menegaskan tidak ada yang bisa mengentengkan hukuman terdakwa. "Kami tidak ditemukan hal-hal yang dapat meringankan dalam perbuatan terdakwa," ujar Mayasari.

Aman alias Oman didakwa sebagai aktor intelektual yang memberikan doktrin kepada pelaku bom bunuh diri di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada 14 Januari 2016. Dia juga disebut ada di balik teror bom Kampung Melayu, Jakarta Timur, dan Samarinda, Kalimantan Timur.

Dalam dakwaan primer, Aman dituduh melanggar Pasal 14 juncto Pasal 6 subsider Pasal 15 Undang-Undang (UU) Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Dalam dakwaan sekunder, Aman dikenakan Pasal 14 juncto Pasal 7 subsider Pasal 15 juncto Pasal 7 UU Terorisme.




(OGI)