Gaji Hakim Disebut Layak, tak Patut Terima Suap

   •    Rabu, 14 Mar 2018 13:39 WIB
kasus korupsiott kpk
Gaji Hakim Disebut Layak, tak Patut Terima Suap
Hakim pada Pengadilan Negeri Tangerang, Wahyu Widya Nurfitri yang tertangkap tangan menerima suap perkara kasus perdata. (Foto: MI/Mohammad Irfan)

Jakarta: Pengamat Hukum Pidana Asep Iwan Iriawan tak sepakat jika kasus korupsi yang dilakukan oleh oknum hakim dilatarbelakangi oleh kecilnya gaji. Menurut dia, perilaku koruptif 'wakil tuhan' lebih kepada integritas pribadi.

"Zaman saya, gaji hakim memang hanya Rp4 juta sampai Rp5 juta tapi sekarang sudah puluhan juta. Jadi bukan karena gaji kecil, paradigma bahwa yang tertangkap lagi sial itu yang tidak berubah," kata Asep, dalam Metro Pagi Primetime, Rabu, 14 Maret 2018.

Asep yang juga mantan hakim menilai boleh jadi di level atas seperti Mahkamah Agung sudah melaksanakan tugas dengan jujur dan amanah. Namun itu tidak menjamin jajaran di bawahnya akan melaksanakan hal yang sama. 

Mestinya, kata Asep, kasus operasi tangkap tangan atau korupsi pada umumnya bisa dijadikan sebagai pembelajaran agar kesalahan yang sama tidak dilakukan di kemudian hari. 

"Kalau tidak mau belajar dari kesalahan, enggak mau mengubah paradigma, ya 'ndableg' saja itu orang," katanya.

Asep menilai upah hakim saat ini sudah lebih layak. Profesi sebagai hakim juga seharusnya dijadikan sebagai lahan pengabdian bukan mencari kekayaan.

"Kalau mau kaya jangan jadi hakim. Gaji hakim sudah layak bahkan yang junior sudah bisa dapat Rp10 juta, jangan dirusak. Malu," ungkap Asep.

Ia mengingatkan bahwa asas menjadi hakim adalah independen dan imparsial. Hakim harus bebas dari kepentingan apa pun ketika membuat keputusan. Sebab hakim adalah wakil tuhan yang selalu menyebut nama tuhan dalam setiap putusannya.

"Kalau enggak sanggup jadi wakil tuhan, jangan jadi hakim. Ada orang menggoda dengan uang diterima, apa iya wakil tuhan seperti itu," katanya.




(MEL)