KPK Bisa Jerat Pihak Selain Fredrich

M Sholahadhin Azhar    •    Minggu, 14 Jan 2018 18:33 WIB
korupsi e-ktpsetya novanto
KPK Bisa Jerat Pihak Selain Fredrich
Petugas kepolisian berjaga di depan ruang tempat Setya Novanto dirawat, di RS Medika Permata Hijau, Jakarta, Kamis (16/11). (ANT/Galih Pradipta)

Jakarta: Pengusutan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan upaya menghalangi penyidikan kasus korupsi KTP-el Setya Novanto bisa diperluas. Pihak selain eks Pengacara Novanto Fredrich Yunadi bisa diusut oleh KPK. Yakni rumah sakit tempat Novanto dirawat saat buron.

"Soal menjerat korporasi, melihat aturan bisa saja. Apakah korporasi juga terlibat dalam merintangi penyidikan. Ada pertanggung jawaban secara hukum. Kita enggak tahu informasi apa yang KPK punya. Apakah korporasi aktif melindungi Novanto atau tidak," kata Koordinator Divisi Hukum dan Monitoring Peradilan ICW Tama S Langkun di kantornya, Jakarta Selatan, Minggu, 14 Januari 2018.

Menurutnya menyeret korporasi dalam perkara terkait korupsi dimungkinkan. Apalagi beredar kabar tentang pemesanan beberapa kamar VIP sebelum Novanto ke rumah sakit itu. Koordinator Program Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI), Julius Ibrani menyebut selain rumah sakit, KPK juga bisa menyisir pihak terkait lain.

Misalnya seperti eks kontributor televisi swasta Hilman Mattauch. KPK bisa menelisik peran Hilman, mengingat saat itu Novanto tengah dicari lembaga antirasuah. 

"Jika diduga HM tahu Setnov tersangka dan DPO, tapi diajak berputar-putar dahulu, itu bisa saja kena," katanya.

Pihak lain ini termasuk juga orang yang membocorkan info jemput paksa Novanto oleh KPK. Berikut dengan pihak yang memberi saran agar tidak di rumah untuk menyikapi kabar jemput paksa tersebut. Sebab kemungkinan besar ada orang yang memfasilitasi Novanto kabur saat akan didatangi KPK.

"Siapa yang kasih tahu, ketika Setnov hendak ditangkap, kalau ada yang menyarankan maka dia bisa dimintai pertanggungjawaban," imbuh Julius.

Sebelumnya, tim KPK menjemput paksa advokat Fredrich Yunadi di sebuah lokasi, Jumat 12 Januari malam. Fredrich dijemput paksa setelah sebelumnya dianggap tidak bersikap kooperatif. Dia menolak hadir dalam pemeriksaan dengan dalil masih mengikuti proses pemeriksaan kode etik Dewan Kehormatan Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi).

KPK menetapkan advokat Fredrich Yunadi dan Bimanesh Sutarjo, dokter RS Permata Hijau. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka merintangi penyidikan perkara korupsi KTP-el yang menjerat Setya Novanto. Atas perbuatannya, Fredrich dan Bimanesh dijerat dengan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.


(LDS)

KPK Diminta tak Berhenti di Novanto

KPK Diminta tak Berhenti di Novanto

3 hours Ago

Koordinator Divisi Hukum dan Monitoring Peradilan Indonesia Corruption Watch (ICW) Tama S. Lang…

BERITA LAINNYA