PT Samantaka Usulkan Pembangunan PLTU Riau-I

Damar Iradat    •    Selasa, 11 Dec 2018 14:31 WIB
Korupsi PLTU Riau-1
PT Samantaka Usulkan Pembangunan PLTU Riau-I
Hukum. Ilustrasi: Medcom.id/Mohammad Rizal

Jakarta: PT Samantaka Batubara disebut sempat mengusulkan pembangunan PLTU Mulut Tambang Riau-I kepada PT PLN (persero). PT Samantaka adalah salah satu perusahaan milik BlackGold Natural Resources Limited yang sahamnya dimiliki Johannes Budisutrisno Kotjo, terdakwa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Pengadaan Strategis 2 PT PLN Supangkat Iwan Santoso saat bersaksi untuk terdakwa mantan Wakil Ketua Komisi VII Eni Maulani Saragih di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Menurut Iwan, PT Samantaka pernah dua kali bersurat ke PLN.

"Sepengetahuan saya, ada dua surat dari PT Samantaka pada awal dan akhir 2015. Surat mengusulkan membangun PLTU Mulut Tambang dan masuk ke dalam RUPTL (rencana usaha penyediaan tenaga listrik)," kata Iwan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa, 11 Desember 2018.

Iwan mengakui jika pembangunan PLTU dekat mulut tambang memang bisa diusulkan dari pihak luar. Namun, usulan tersebut bakal dibicarakan lebih lanjut dengan internal PLN.

Ia menjelaskan sebelum proyek berlangsung, ada sejumlah tambang yang berpotensi bisa dijadikan lokasi PLTU Mulut Tambang Riau-I. Setidaknya, ada empat perusahaan yang beroperasi di dekat lokasi yang direncanakan menjadi PLTU Mulut Tambang Riau-I.

Iwan juga tidak memungkiri jika salah satu perusahaan tersebut adalah PT Samantaka. Namun, dia menyatakan jika penunjukan untuk bermitra dengan PT Pembangkitan Jawa Bali Investasi (PJBI), anak perusahaan PLN, itu juga melalui seleksi.

"Untuk PLTU Riau, yang pertama dilakukan seleksi terhadap tambang. Didasarkan pada beberapa kriteria karena salah satu syarat dari PLTU Mulut Tambang, tersedia batu bara yang dedicated, yang mampu memasok umur kontrak ditambah 10 tahun," ujar dia.

Dari empat perusahaan yang ada di lokasi tersebut, PLN akhirnya memilih PT Samantaka. Alasannya, PT Samantaka memiliki kritieria yang paling memenuhi.

"Yang punya nilai paling tinggi adalah Samantaka. Kalau cadangan sedikit lebih besar punya PT Bukit Asam. Tapi, dari data teknis tersebut, apabila Samantaka ditetapkan sebagai kandidat PLTU, maka cost lebih murah dari Bukit Asam," ujar dia.

Baca: Dirut PLN Sofyan Basir Bersaksi untuk Eni Saragih

Setelah itu, pihak-pihak terkait, PLN Batu Bara, PT Samantaka, PT PJBI, BlackGold Natural Resources Limited, dan calon investor China Huadian akhirnya membuat perjanjian pembentukan konsorsium untuk pekerjaan PLTU Riau-I. Proyek pembangunan PLTU Riau-I yang digarap PT PJBI itu terindikasi berbau amis. 

Johannes Budisutrisno Kotjo diduga menyuap mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eni Maulani Saragih sebesar Rp4,75 miliar. Uang suap itu diduga untuk memudahkan Kotjo untuk melobi Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir agar meloloskan BlackGold sebagai salah satu penggarap PLTU Riau-I.




(OGI)

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

1 month Ago

KPK memanggil Sekretaris Direktur Jenderal Administrasi Kependudukan Kementerian Dalam Neg…

BERITA LAINNYA