KPK Mendalami Peran Ibu Aditya Moha di Kasus Suap Ketua PT Manado

Juven Martua Sitompul    •    Selasa, 10 Oct 2017 17:19 WIB
ott kpk
KPK Mendalami Peran Ibu Aditya Moha di Kasus Suap Ketua PT Manado
Juru Bicara KPK Febri Diansyah. (Foto: MI/Rommy Pujianto).

Metrotvnews.com, Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah mendalami peran Bupati Bolaang Mongondow Marlina Moha Siahaan dalam kasus dugaan suap terkait penanganan perkara korupsi yang menjerat Ketua Pengadilan Tinggi Manado Sudiwardono.

"Saya kira itu standar saja dalam proses penyidikan tentu aktor terkait akan kita cermati, akan kita lihat relasi satu dengan lainnya," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Selasa 10 Oktober 2017.

Marlina merupakan ibunda dari tersangka anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Golkar Aditya Anugrah Moha. Aditya ditetapkan sebagai tersangka karena diduga telah menyuap Sudiwardono untuk memuluskan banding yang diajukan sang ibu.

Marlina adalah terdakwa dalam perkara dugaan korupsi tunjangan penghasilan aparatur pemerintah desa (TPAD) Kabupaten Bolaang Mongondow. Di tingkat pertama, Marlina divonis 5 tahun penjara kemudian mengajukan banding atas vonis tersebut.

Tak rela sang ibu dibui, Aditya lantas menyuap Sudiwardono sebesar SGD100 ribu. Uang itu diberikan agar Sudiwardono memengaruhi putusan banding, terpenting hakim membebaskan dan tidak menahan Marlina.

Menurut Febri, saat ini penyidik KPK tengah fokus mendalami dugaan pemberian uang oleh Aditya kepada Sudiwardono untuk memengaruhi putusan di tingkat banding dan tak menahan Marlina.

(Baca juga: Politikus Golkar Diduga Suap Hakim untuk Selamatkan Ibunya)

"Saya belum dapatkan informasi sejauh mana komunikasi dengan atau permintaan-permintaan kerja sama antara terdakwa (Marlina) dengan AAM yang ditetapkan sebagai tersangka. Itu juga tentu jadi salah satu bagian yang kami dalami," ujar Febri. 

Di sisi lain, Febri mengungkapkan jika kasus yang menjerat Marlina merupakan hasil supervisi KPK dengan Polres Bolaang Mongondow pada 2014 silam. Dari supervisi itu, selain Miriam ada enam orang telah divonis bersalah atas kasus tersebut.

Mereka di antaranya, Cimmy Wua, Mursid Potabuga, Ferri Sugeha, Farid Asimin, Ikram Lasinggaru, dan Suharjo Makalalag. Febri menyebut, penanganan kasus itu termasuk salah satu contoh dari banyak perkara yang ditangani melalui pelaksanaan tugas koordinasi dan supervisi KPK.

"KPK lakukan pemantauan dan pengawasan juga terhadap kasus yang kita supervisi sebelumnya," pungkas Febri.
 


(REN)