Konsorsium PNRI Jatuh Bangun Cari Pinjaman Dana

Damar Iradat    •    Selasa, 28 Aug 2018 12:59 WIB
korupsi e-ktp
Konsorsium PNRI Jatuh Bangun Cari Pinjaman Dana
Suasana sidang KTP-el/Medcom.id/Damar Iradat

Jakarta: Anggota Konsorsium Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) mengaku bolak-balik mencari dana pinjaman untuk memulai proyek KTP elektronik. Konsrosium tidak mendapatkan uang muka dari Kementerian Dalam Negeri untuk memulai proyek senilai Rp5,9 triliun itu.

Hal tersebut diungkap Willy Nusantara, salah seorang karyawan PT Quadra Solutions, saat bersaksi dalam sidang lanjutan kasus korupsi KTP-el dengan terdakwa Irvanto Hendra Pambudi dan Made Oka Masagung. Willy mengatakan awalnya, bos Quadra, Anang Sugiana Sudihardjo, mengajaknya mencari dana bersama pemilik PT Sandipala Arthaputra Paulus Tannos dan Made Oka.

"Anang, saya, Paulus Tannos, Made Oka bertemu dengan pihak Sinarmas untuk mencari pendanaan proyek KTP-el," ungkap Willy di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Selasa, 28 Agustus 2018.

Baca: Novanto Ingin KPK Seret Gamawan dan Mekeng

Jaksa pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kemudian mempertanyakan ihwal pencarian pinjaman dana tersebut. Sesuai kontrak, konsorsium seharusnya mendapatkan uang muka dari Kemendagri.

"Kemudian kami melakukan penjajakan ke beberapa bank, terakhir salah satu ke Sinarmas," ucap dia.

Saat itu, mereka berempat mempresentasikan proyek KTP-el kepada Sinarmas untuk mendapatkan pinjaman dana. Sayangnya, mereka gagal meyakinkan Sinarmas.

Baca: Eks Sekjen Kemendagri Bantah Dapat Tas Hermes dari Keponakan Novanto

Sinarmas bukan satu-satunya bank yang mereka kunjungi untuk meminta bantuan pinjaman dana. Mereka juga sempat ke Bank Bukopin, tapi juga ditolak.

Jaksa kemudian menanyakan kapasitas Made Oka yang ikut menemani ke Sinarmas. Made Oka tidak seperti Anang dan Paulus yang perusahaannya tergabung dalam konsorsium PNRI.

Menurut Willy, Made Oka saat itu menjadi pihak yang memperkenalkan Anang dan Paulus sebagai anggota konsorsium PNRI. Namun, Willy tidak mengetahui siapa yang meminta bantuan Made Oka.

Made Oka dan Irvanto didakwa ikut terlibat dalam kasus korupsi KTP-el yang merugikan negara hingga Rp2,3 triliun. Irvanto dan Made Oka didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHP.




(OJE)