Hukuman Mati Masih Alternatif

   •    Rabu, 11 Oct 2017 06:23 WIB
hukuman mati
Hukuman Mati Masih Alternatif
Menkumham Yasonna Laoly/MTVN/Damar Iradat

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly mengakui pemerintah masih menganggap hukuman mati sebagai hukuman alternatif. Pemerintah masih mencari win-win solution.

"Jadi, sekarang ini dua arus pikiran yang berbeda. Di mana-mana pun, di Amerika, di mana-mana, dua pandangan tentang hukuman mati tetap ada. Yang dukung dan yang tidak. Makanya kita ambil posisi tengah. Dia (hukuman mati) masih ada, tapi hukuman alternatif," kata Yasonna seperti dilansir Media Indonesia, Rabu 11 Oktober 2017.

Menurut Yasonna, hal itu masih bisa dikaji pada saat terpidana menjalani masa hukuman. Apabila pada saat menjalani hukuman terpidana berkelakuan baik, bukan tidak mungkin hukuman berubah menjadi seumur hidup.

"Sekarang masih ada tentang hukuman mati. Tunggu saja sampai kita sahkan kembali. Sudah deket pengesahan rencana undang-undang hukum pidana yang baru," ujar politikus PDI Perjuangan itu.

Di sisi lain, dalam memperingati 15 tahun gerakan melawan praktik hukuman mati sedunia Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mengeluarkan catatan publik terkait hukuman mati.

"Setidaknya 7 negara di dunia telah menghapus vonis hukuman mati untuk tindakan pidana biasa, 30 negara lainnya telah meniadakan hukuman mati secara praktik, 57 negara telah meretensi hukuman mati. Namun, tren ini tidak diikuti oleh 23 negara yang masih menerapkan eksekusi mati sampai 2016, dan Indonesia masuk daftar negara-negara yang masih konvensional dalam hal ini," ungkap peneliti Amnesti Internasional Indonesia Papang Hidayat.

Saat ini, mayoritas negara di dunia sekarang telah menjauhi hukuman mati. Namun, ada lima negara yang masih sangat tinggi dalam melakukan hukuman mati.

"Sembilan puluh persen hanya terjadi di Tiongkok, Iran, Irak, Pakistan, dan Saudi Arabia," jelas Hidayat.

Di Indonesia, Kontras mencatat dari Januari hingga September 2017, sudah ada 32 vonis mati yang dijatuhkan. Sebanyak 22 kasus berdimensi kejahatan pidana narkotika dan 10 lainnya merupakan tindak pidana kasus pembunuhan berencana.

Namun, bika dilihat antara 2016-2017 Kontras mencatat ada 44 orang yang keseluruhan berjenis kelamin laki-laki dan beragam status kewarganegaraan, antara lain Tiongkok (2 terpidana mati), Malaysia (4 terpidana mati), Taiwan (1 terpidana mati), dan Indonesia (26 terpidana mati).

 


(OJE)

Miryam Akui Mengarang Isi BAP Perkara KTP-el

Miryam Akui Mengarang Isi BAP Perkara KTP-el

15 hours Ago

Politikus Hanura Miryam S Haryani mengaku mencabut seluruh isi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) d…

BERITA LAINNYA