KPK Periksa Bos PT Buana Finance Terkait Korupsi BLBI

Juven Martua Sitompul    •    Rabu, 11 Oct 2017 14:37 WIB
kasus blbi
KPK Periksa Bos PT Buana Finance Terkait Korupsi BLBI
Juru bicara KPK Febri Diansyah. Foto: MI/Rommy

Metrotvnews.com, Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan memeriksa Komisaris PT Buana Finance Tbk, Tjan Soen Eng. Dia diperiksa terkait kasus dugaan korupsi penerbitan Surat Keterangan Lunas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) untuk Sjamsul Nursalim, pemilik Bank Dagang Nasional Indonesia.
 
Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, Tjan Soen Eng diperiksa untuk tersangka mantan Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arsyad Temenggung.
 
"Dia diperiksa sebagai saksi untuk tersangka SAT (Syafruddin Arsyad Temenggung)," kata Febri saat dikonfirmasi, Jakarta, Rabu 11 Oktober 2017.

Baca: Negara Rugi Rp4,58 Triliun dalam Kasus BLBI

PT Buana Finance merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pembiayaan. Perusahaan pembiayaan ini tercatat sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia terfokus pada usaha di segmen leasing dan pembiayaan konsumen, PT Buana Finance berdiri sejak tahun 1990.
 
Tercatat, pemegang saham mayoritas PT Buana Finance adalah PT Sari Dasa Karsa, sebanyak 67.6 persen, per 31 Juli 2017. PT Sari Dasa Karsa juga tercatat memiliki saham di PT Bank UOB Indonesia, yang dulunya merupakan Bank Buana.
 
Selain itu Tjan Soen Eng juga diketahui menjabat sebagai Komisaris Utama PT Asuransi Bina Dana Arta atau ABDA. Namun belum diketahui secara pasti kaitan Tjan Soen Eng dengan Syafruddin maupun Sjamsul Nursalim.
 
KPK menemukan kerugian negara dari kasus dugaan korupsi SKL BLBI Sjamsul Nursalim tersebut. Kerugian negara sebesar Rp4,58 triliun didapat dari hasil audit investigatif Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
 
Sjamsul Nursalim memiliki kewajiban membayar sebesar Rp4,8 triliun atas kucuran dana BLBI pada kurun waktu 1998. Saat itu, Indonesia tengah dilanda krisis ekonomi.

Baca: KPK Kesulitan Periksa Sjamsul Nursalim Terkait Kasus BLBI

Dari total tagihan itu, Sjamsul Nursalim baru menyerahkan Rp1,1 triliun yang ditagihkan kepada petani tambak. Sementara, sisanya Rp3,7 triliun tidak dibahas dalam proses restukturisasi oleh BPPN bahkan tak ada penagihan terhadap bos PT Gajah Tunggal Tbk tersebut.
 
Pada proses pelelangan PT Perusahaan Pengelolaan Aset (PPA), harga aset yang diklaim Sjamsul Nursalim senilai Rp1,1 triliun itu hanya terjual Rp220 miliar. Hingga kini, penyidik belum berhasil menghadirkan Sjamsul Nursalim ke ruang penyidikan.
 
Sjamsul Nursalim dan Istrinya Itjih Nursalim sudah dua kali dipanggil penyidik. Namun, pasangan suami istri itu mangkir dari pemeriksaan lembaga antirasuah karena sudah menetap di Singapura sejak beberapa waktu lalu.




(FZN)