Napi di Palu Kabur

68 Napi yang Menyerahkan Diri Ditempatkan di Tenda

Golda Eksa    •    Senin, 08 Oct 2018 08:13 WIB
narapidanaGempa Donggala
68 Napi yang Menyerahkan Diri Ditempatkan di Tenda
Ilustrasi narapidana--Medcom.id/Mohammad Rizal.

Jakarta: Sebanyak 68 tahanan dan narapidana yang kabur dari beberapa lembaga pemasyarakatan (LP) di Palu sudah menyerahkan diri. Hingga saat ini masih ada 1.357 tahanan yang berkeliaran di luar LP.

"Dirjen PAS (Sri Puguh Budi Utami) sebelumnya menyatakan ada 1.425 narapidana yang kabur, sekarang berkurang menjadi 1.357 orang," kata Kepala Bagian Humas Ditjen PAS Ade Kusmanto, Minggu, 7 Oktober 2018.

Menurut Ade, semua warga binaan pemasyarakatan di Palu yang saat ini belum kembali diizinkan keluar bertemu dengan keluarga. Syarat wajib lapor sampai Kamis, 4 Oktober 2018. "Untuk yang sudah kembali ditampung di tenda halaman LP dengan penjagaan," jelas Ade.

Penempatan para narapidana di tenda terpaksa dilakukan lantaran kondisi sejumlah LP di Palu yang rusak parah hingga mencapai 80%. Ade mengungkapkan dengan kembalinya 68 narapidana itu, warga binaan yang sudah berada di LP dan rutan yang berada di 15 UPT wilayah Sulawesi Tengah sebanyak 1.863 dari total 3.220 narapidana.

Para tahanan dan narapidana yang kabur itu berasal dari LP Palu sebanyak 515 dari 581 narapidana sehingga tersisa 66 warga binaan. Di Rutan Palu sebanyak 410 ta-hanan dari 463 tahanan, jadi yang tersisa 53.

Di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Perempuan (LPP) Palu sebanyak 75 dari 83 narapidana, ditambah tiga bayi. Tersisa sembilan orang.

Selanjutnya, di LP Khusus Anak Palu 24 orang dari 29 narapidana sehingga tersisa lima warga binaan. Adapun di LP Donggala sebanyak 342 narapidana kabur semua.

Baca: Napi di Donggala dan Palu Kabur Ingin Lihat Keluarga

Kementerian Hukum dan HAM pun memaklumi narapidana keluar dari LP saat gempa terjadi. Sebab LP tempat mereka menjalani masa hukuman rusak berat.

"Yang di Donggala karena dikunci, para napinya marah karena takut gempa susulan terus-menerus, akhirnya dilepas. Banyak juga yang melapor kembali, tapi mau bagaimana LP-nya hancur begitu," kata Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly.

Keputusan tersebut, kata Yasonna, diambil karena pihaknya masih kesulitan menyediakan makanan bagi para napi dalam kondisi bencana. Sementara itu, para napi juga khawatir dengan kondisi keluarga mereka yang menjadi korban gempa.

"Karena alasan kemanusiaan, LP-nya hancur, mau bagaimana? Tembok roboh. Saat gempa susulan mereka khawatir tertimpa reruntuhan. Waktu gempa, tembok semua roboh," jelas dia.

Warga Filipina

Kementerian Luar Negeri Filipina mengonfirmasi bahwa salah satu warganya ialah satu dari banyak tahanan yang melarikan diri dari sejumlah lembaga permasyarakatan di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Satu warga Filipina itu yang sedang menjalani masa hukuman di salah satu penjara di Sulteng.

Awalnya dilaporkan berada dalam kondisi selamat oleh DFA pada Sabtu lalu.

Mengutip Konsulat Jenderal Filipina di Manado, Asisten Sekretaris DFA Elmer Cato mengonfirmasi seorang warga Filipina memang ikut dalam pelarian massal di Sulteng.

Dilansir kantor berita PNA, warga Filipina itu diketahui tengah menjalani masa hukuman penjara hingga 2021. Ia dinyatakan bersalah karena memiliki sabu-sabu setelah ditangkap pada 2011.


(YDH)