KPK Kantongi Bukti Skandal Lippo Group di Meikarta

Juven Martua Sitompul    •    Kamis, 08 Nov 2018 05:20 WIB
meikartaOTT Pejabat Bekasi
KPK Kantongi Bukti Skandal Lippo Group di Meikarta
Juru bicara KPK Febri Diansyah. MI/Rommy Pujianto

Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaku telah memiliki bukti kuat adanya keterlibatan petinggi Lippo Group dalam kasus dugaan suap perizinan proyek pembangunan Meikarta. Bukti komunikasi antara Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin dan pihak terkait telah dikantongi penyidik.

"Bagaimana kesepakatan komitmen fee dan apa yang akan dikerjakan," kata juru bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Rabu, 7 November 2018.

Penyidik telah mengambil sampel suara Neneng. Sampel suara Neneng akan dicocokkan dengan beberapa percakapan Neneng dengan pihak-pihak terkait.

"Untuk sampel suara tentu ada banyak hal yang akan digali nantinya," ujar Febri.

Febri mengingatkan semua pihak untuk bersikap kooperatif menjalani proses hukum yang berjalan di KPK. Apalagi, kata dia, penyidik telah memiliki bukti-bukti kuat terkait suap Meikarta.

"Jadi jika ada sangkalan-sangkalan sebenarnya KPK tidak akan terlalu terpengaruh karena banyak bukti yang kami miliki termasuk bukti-bukti elektronik," pungkas Febri.

KPK baru-baru ini gencar menelusuri sumber uang suap Meikarta yang diduga berasal dari Lippo Group. Banyak pihak dari Lippo Group yang telah masuk ke ruang penyidikan untuk dimintai keterangan terkait hal ini.

Antara lain Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro, CEO Lippo Group James Riady. Serta mantan Presiden Direktur PT Lippo Cikarang Tbk Toto Bartholomeus.

Kemudian Presiden Direktur PT Lippo Karawaci Tbk Ketut Budi Wijaya, Corporate Affairs Siloam Hospital Group Josep Christoper Mailool. Direktur Keuangan PT Lippo Cikarang Tbk Soni dan Direktur Keuangan PT Lippo Karawaci Tbk Richard Setiadi.

Teranyar, giliran Direktur Keuangan PT Mahkota Sentosa Utama (PT MSU) Hartono diperiksa penyidik. Melalui Hartono, penyidik lebih banyak mengonfirmasi soal asal uang hingga proses penyuapan.

Dari pemeriksaan itu terungkap juga adanya pertemuan-pertemuan antara petinggi Lippo Group dengan Neneng. Salah satunya, James Riady yang mengakui pernah bertemu dengan Neneng dengan alasan silaturahmi persalinan Neneng.

Bukan hanya James, Eddy Sindoro juga mengaku dua kali bertemu Neneng. Pertemuan pertama dilakukan untuk memberi selamat atas persalinan Neneng. Sedangkan pada pertemuan kedua Eddy dan Neneng membahas soal pembangunan Rumah Sakit (RS) Siloam di Meikarta.

Meikarta merupakan salah satu proyek prestisius milik Lippo Group. Penggarap proyek Meikarta ialah PT Mahkota Sentosa Utama, yang merupakan anak usaha dari PT Lippo Cikarang Tbk. Sementara PT Lippo Cikarang Tbk berada di bawah naungan Lippo Group.

Secara keseluruhan nilai investasi proyek Meikarta ditaksir mencapai Rp278 triliun. Meikarta menjadi proyek terbesar Lippo Group selama 67 tahun grup bisnis milik Mochtar Riady itu berdiri.

Dalam kasus ini, Billy Sindoro diduga memberikan uang Rp7 miliar kepada Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin dan anak buahnya. Uang itu diduga bagian dari fee yang dijanjikan sebesar Rp13 miliar terkait proses pengurusan izin proyek Meikarta.


(SCI)