KPK Segera Periksa Sofyan Basir

Juven Martua Sitompul    •    Jumat, 12 Oct 2018 05:00 WIB
Korupsi PLTU Riau-1
KPK Segera Periksa Sofyan Basir
Dirut PLN Sofyan Basir usai diperiksa KPK. Foto: MI/Rommy Pujianto

Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengamini bakal kembali memeriksa Dirut PLN Sofyan Basir dalam kasus dugaan suap proyek pembangunan PLTU Riau-I. Waktu pemanggilan akan ditentukan oleh penyidik.

"Iya strategi itu mereka yang lebih paham, tapi yang jelas itu tidak berhenti," kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang di Gedung KPK, Jakarta, Kamis, 11 Oktober 2018.

Saut mengakui jika pengembangan tak memiliki tenggat waktu. Dia meminta semua pihak bersabar dan memberikan ruang kepada penyidik untuk menyelesaikan perkara suap proyek bernilai US$900 juta tersebut.

"Penyidik dengan subjektivitasnya dia, walaupun itu juga di bawah komando kita tentunya mereka juga punya analisis, mana yang lebih dulu termasuk jaksa penuntut," ujarnya.

Kamis, 11 Oktober 2018 kemarin mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eni Maulani Saragih dihadirkan sebagai saksi di sidang terdakwa bos Blackgold Natural Recourses Limited Johannes Budisutrisno Kotjo. Dalam sidang, Eni mengungkap detail peran Sofyan di kasus suap proyek PLTU Riau-I.

Baca: Kesaksian Eni Pintu Masuk Jerat Sofyan Basir

Sofyan disebut sebagai pihak yang menawarkan proyek ini kepada Setya Novanto yang saat ini masih menjabat sebagai ketua umum partai Golkar. Sofyan juga disebut memiliki peran sakral dalam meloloskan Blackgold sebagai konsorsium penggarap proyek PLTU Riau-I.

Bahkan, menurut pengakuan Eni, Sofyan sempat dijanjikan menerima fee paling banyak. Namun, akhirnya fee untuk Sofyan sama dengan yang diterima Eni dan mantan menteri sosial Idrus Marham.

KPK baru menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus dugaan suap proyek pembangunan PLTU Riau-I. Ketiga tersangka itu yakni bos Blackgold Natural Recourses Limited Johannes Budisutrisno Kotjo (JBK), Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eni Maulani Saragih (EMS), serta mantan Menteri Sosial Idrus Marham (IM).

Baca: Sofyan Basir Bahas Proyek PLTU Riau-1 di Rumah Novanto

Eni bersama dengan Idrus diduga menerima hadiah atau janji dari Kotjo. Eni diduga menerima uang sebesar Rp6,25 miliar dari Kotjosecara bertahap. Uang itu adalah jatah Eni untuk memuluskan perusahaan Kotjo sebagai penggarap proyek PLTU Riau-I.

Penyerahan uang kepada Eni tersebut dilakukan secara bertahap dengan rincian Rp4 miliar sekitar November-Desember 2017 dan Rp2,25 miliar pada Maret-Juni 2018‎. Idrus juga dijanjikan mendapatkan jatah yang sama jika berhasil meloloskan perusahaan Kotjo.


(DMR)