Ahli Toksikologi Australia Meragukan Mirna Meninggal karena Sianida

Arga sumantri    •    Rabu, 21 Sep 2016 12:33 WIB
kematian mirna
Ahli Toksikologi Australia Meragukan Mirna Meninggal karena Sianida
Terdakwa kasus dugaan pembunuhan Wayan Mirna Solihin, Jessica Kumala Wongso, bersiap mengikuti sidang di PN Jakpus, Senin (19/9/2016) -- MI/Bary Fathahilah

Metrotvnews.com, Jakarta: Ahli farmakologi dan toksikologi forensik dari Australia, Michael Robertson, jadi saksi pertama di sidang ke-23 kasus kematian Wayan Mirna. Berdasarkan analisisnya, Robertson meragukan ada sianida yang masuk ke dalam tubuh Mirna.

"Tidak ada bukti toksikologi masuknya sianida lewat mulut," ujar Robertson yang didampingi penerjemah bernama Arif di ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Rabu (21/9/2016).

Sebelum membeberkan analisisnya terhadap dokumen berkas kematian Mirna, Robertson mengungkapkan sejumlah alasan. Pertama, tidak ditemukan sianida dalam sampel cairan lambung yang jadi salah satu barang bukti.

Seharusnya, lanjut Robertson, ditemukan bekas sianida di cairan lambung jika Mirna memang meninggal karena sianida yang masuk melalui mulut. Apalagi, sampel cairan lambung diperiksa 70 menit setelah Mirna dinyatakan meninggal.

Robertson juga melihat kejanggalan pada laporan pemeriksaan yang menyebut kadar sianida dalam lambung Mirna sebanyak 0,2 miligram. Jumlah itu, menurut Robertson, terlalu sedikit untuk orang yang divonis meninggal karena sianida.

"Dosis mematikan sianida yang masuk lewat mulut yaitu 2,9 miligram untuk setiap kilogram berat manusia, atau 180 miligram dengan melihat berat badan seseorang sekitar 60 kilogram," jelas Robertson.


Terdakwa Jessica Kumala Wongso di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Bungur, Senin (5/9/2016) -- MI/Rommy Pujianto

Robertson menjelaskan, sifat sianida memang mudah terurai atau menguap. Jika sianida terurai dalam rentang waktu pengambilan sampel maupun pengujian dilakukan, seharusnya di sampel-sampel itu tetap dapat ditemukan sianida.

(Baca: Ahli Patologi Akui Sianida Bisa Membunuh Manusia)

Perlu diketahui, sampel cairan lambung Mirna jadi salah satu barang bukti yang dicantumkan dalam berkas hasil pemeriksaan. Hasil pemeriksaan dokter forensik menyimpulkan, bahwa cairan lambung Mirna negatif sianida.

Sementara itu, dalam berkas hasil pemeriksaan jasad Mirna dicantumkan terdapat 0,2 miligram sianida di lambung Mirna. Lambung Mirna itu diperiksa tiga hari setelah Mirna meninggal. Saat diperiksa, jasad Mirna juga sudah diformalin.

(Baca: Zat Sianida Bisa Muncul Dalam Tubuh Setelah Meninggal)

Mirna diduga tewas karena racun sianida. Dia meregang nyawa tak lama setelah menyeruput kopi es ala Vietnam di Kafe Olivier, pada 6 Januari 2016. Kopi untuk Mirna dipesankan oleh Jessica, teman kuliahnya di Billyblue College, Australia.

Jessica kemudian ditetapkan sebagai terdakwa. Dia terancam dijerat Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana dengan ancaman hukuman mati.


(NIN)

Pilgub DKI Dinilai Rawan Penyalahgunaan Isu SARA

Pilgub DKI Dinilai Rawan Penyalahgunaan Isu SARA

23 minutes Ago

Pengamat politik Lingkar Madani Indonesia Ray Rangkuti menilai Pilgub DKI rawan terjadi penyala…

BERITA LAINNYA
Video /