Pola Serangan Terorisme di Indonesia Kerap Berubah

Dhaifurrakhman Abas    •    Sabtu, 24 Feb 2018 18:18 WIB
terorisme
Pola Serangan Terorisme di Indonesia Kerap Berubah
Mantan teroris, Ali Fauzi. Foto: Medcom.id/Dhaifurrakhman Abas

Jakarta: Eks Teroris, Ali Fauzi mengungkapkan, pola serangan terorisme di Indonesia terus berubah. Hal tersebut tercermin dari pergerakan pola serangan selama satu dekade terakhir.

"Kalau dahulu di era 2000an, aksi penyerangan biasanya menggunakan bom seberat 400 kilogram sampai 1 ton. Kalau sekarang bom rakitan berukuran kecil," kata Ali, di Hotel Akmani, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu 24 Februari 2018.

Selain itu, perubahan pola penyerangan terorisme juga terlihat dari target serangan. Dahulu, penyerang memfokuskan serangan kepada simbol-simbol barat, baik itu kedutaan maupun warga negara asing. Belakangan, pola target serangan beralih menjadi target domestik.

"Ada semacam pengalihan target. Polanya dari luar ke dalam. Dari luar negeri menjadi domestik. Target yang diincar menjadi pihak kepolisian dan semacamnya,"

Baca: BNPT Masih Telusuri Jaringan Terorisme di Batam

Menurut Ali, pengalihan tersebut terjadi lantaran pihak kepolisian dianggap represif dalam memberantas pelaku teror di Indonesia. Tindakan represif aparat terlihat ketika Densus 88 seringkali mengakhiri terorisme dengan menghilangkan nyawa pelaku teroris. Sehingga itu menyebabkan vicious circle of violence.

Ia melanjutkan, jika dilihat dari prespektif teroris, mereka beraksi untuk memperjuangkan yang benar. Sehingga, aksi polisi yang menghilangkan nyawa pelaku teror, dianggap sebagai out of proportion oleh pelaku teroris. "Nah. itu mengakibatkan dendam dari kelompok teroris serta keluarga pelaku," ujarnya.

Pendekatan penegakan hukum dinilai perlu, tetapi itu bukan satu-satunya cara. Menurutnya, pendekatan itu tidak terlalu efektif, sebaliknya justru kontra produktif. 

Baca: Masyarakat Diminta tak Kucilkan Mantan Napi Teroris

Untuk itu dibutuhkan solusi komprehensif dengan pendekatan sosio-kultural keagamaan dari seluruh elemen masyarakat dalam memutus rantai terorisme di indonesia.

"Tidak hanya kepolisian, juga pemerintah lokal dan pusat, masyarakat sipil, dan seluruh elemen masyarakat harus terlibat dalam upaya penyelesaian masalah radikalisme dan terorisme," pungkasnya.


(DMR)

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

1 hour Ago

Fredrich menyesalkan sikap JPU KPK yang dinilai sengaja tidak mau menghadirkan sejumlah saksi k…

BERITA LAINNYA