Memasyarakatkan Kembali Eks Teroris dengan Pendekatan Sosio-Ekonomi

Dhaifurrakhman Abas    •    Minggu, 25 Feb 2018 05:38 WIB
terorisme
Memasyarakatkan Kembali Eks Teroris dengan Pendekatan Sosio-Ekonomi
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra. Foto: MI/Susanto

Jakarta: Solusi komprehensif terhadap radikalisme dan terorisme tidak lengkap tanpa pendekatan sosio-ekonomi. Meski tidak ada korelasi yang betul-betul mengikat antara kemiskinan, radikalisme dan terorisme.

Apalagi jika terdapat kepincangan dan ketidakadilan di antara berbagai lapisan masyarakat. Hal tersebut rentan membentuk mereka menjadi rumput kering yang mudah terbakar.

Sebab itu, menurut Cendekiawan Azyumardi Azra, perlu pemberdayaan sosio-ekonomi masyarakat yang bersangkutan. Khususnya bagi generasi remaja yang sangat rentan terhadap infiltrasi gagasan dan praksis radikalisme dan terorisme.

"Pendekatan ini dapat menjadi langkah efektif untuk mencegah terjerumusnya warga muda bangsa ke dalam tindakan self-infliction, merusak diri sekaligus negara dan bangsa," kata Azyumardi, di Hotel Akmani, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 24 Februari 2018.

Menurutnya, pemberdayaan sosio-ekonomi ini berlaku untuk pelaku terorisme yang dipenjarakan, maupun yang telah selesai menjalani masa hukumannya masing-masing dan kembali ke dalam lingkup masyarakat. Sudah bukan rahasia, banyak dari eks teroris yang tidak memiliki pekerjaan usai menjalani masa hukuman pidana.

Baca: Pola Serangan Terorisme di Indonesia Kerap Berubah

"Banyak di antara mereka tidak memiliki pekerjaan untuk menafkahi keluarga masing-masing setelah keluar dari penjara," ungkapnya.

Selain karena terbelenggu stigma sebagai mantan narapidana, mereka juga tidak mempunyai pengetahuan, keterampilan dan modal untuk memulai usaha. Dalam keadaan ini, mereka rentan kembali kambuh menjadi pelaku terorisme.

"Karena itu pemerintah dalam hal ini terutama Kemensos, Kemenakertrans, KUMKM dan Kementerian BUMN wajib memfasilitasi pelatihan, penyaluran lapangan kerja dan memberikan modal bagi mantan terorisme," tegas dia.

Dengan memiliki pekerjaan dan penghasilan untuk menafkahi diri dan keluarga, para mantan pelaku terorisme dapat kembali memiliki harkat dan martabat diri. Dengan begitu, mereka lebih memiliki ketangguhan lahir batin dalam menghadapi godaan.

"Seperti mencegah godaan dan cuci otak untuk menempuh jalan pintas menjadi pengantin melalui bom bunuh diri," pungkasnya.


(DMR)

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

1 hour Ago

Fredrich menyesalkan sikap JPU KPK yang dinilai sengaja tidak mau menghadirkan sejumlah saksi k…

BERITA LAINNYA