Program Deradikalisasi Terorisme juga Menyasar Keluarga

Ilham wibowo    •    Rabu, 04 Jul 2018 09:40 WIB
terorismekeamanan dan ketertibanradikalisme
Program Deradikalisasi Terorisme juga Menyasar Keluarga
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Suhardi Alius - MI/Arya Manggala.

Jakarta: Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Suhardi Alius memastikan, program pengembalian ideologi terorisme agar kembali cinta Tanah Air dilakukan secara terbuka. Orang terdekat dengan narapidana terorisme turut dilibatkan untuk pendekatan. 

"Terbuka semua, bahkan kita tidak hanya mengurus kepada masalah narapidana saja tapi juga mantan narapidana beserta keluarganya jadi akses yang harus kita laksanakan pendekatan," ujar Suhardi di Kantor Kejaksaan Agung RI, Jakarta, Selasa, 3 Juli 2018. 

Suhardi mengaku telah berkomunikasi langsung dengan Presiden Joko Widodo dalam menjalankan program tersebut. Sebab, program BNPT melibatkan banyak pihak agar upaya yang dilakukan bisa tuntas. 

Hingga saat ini, sudah ada 36 lembaga dan kementerian yang berada dalam jalur koordinasi BNPT.  "Kalau ada 100 orang yang terpapar radikal itu bukan 100 artinya. Dia punya istri tambah 100 lagi, dia punya anak 2 tambah 200 lagi, dia punya orang tua tambah 200 lagi, dia punya adik kakak tambah 200 lagi artinya program deradikalisasi itu harus kita laksanakan utuh," beber dia. 

(Baca juga: PBB Ingatkan BNPT Hati-hati Gunakan Istilah Radikalisme)

BNPT baru bisa bergerak saat pelaku terorisme berstatus narapidana. Menurut Suhardi, perlu kesabaran lebih dalam menjalankan program meskipun vonis hukuman kurungan penjara telah dilalui. 

"Program deradikalisasi itu butuh waktu. Mereka yang delapan tahun masuk ke jaringan dan sekarang divonis 2-3 tahun apa bisa langsung kembali? Tidak, program akan terus berjalan sampai selesai," ungkap dia. 

BNPT mengupayakan seluruh narapidana terorisme bertobat dan kembali mencintai Tanah Air. Karenanya, kerja sama yang dilakukan bersama lembaga dan kementerian dinilai dapat membantu dalam menuntaskan program. 

"Jadi antara soft power dan hard power itu balance, ini jadi catatan buat Sekjen PBB kemarin saya ketemu di New York, apresiasi terhadap pendekatan itu yang kita punya dari Indonesia," tutur dia. 

Suhardi menyakini kehadiran BNPT dengan seluruh programnya tepat untuk diterapkan di Indonesia. Sebab, personel lokal yang terlibat memahami akar permasalahan dalam penanggulangan terorisme. 

"Saya katakan di forum itu bahwa walaupun terorisme itu ancaman global namun akar masalah di masing-masing negara itu berbeda. Akar masalah di Indonesia beda dengan akar masalah di Filipina, dengan akar masalah di Swedia, yang mampu mengatasi itu ya kita sendiri," pungkas dia. 




(REN)

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

1 month Ago

KPK memanggil Sekretaris Direktur Jenderal Administrasi Kependudukan Kementerian Dalam Neg…

BERITA LAINNYA