Eks Dirut Jasindo Dapat Rp3 Miliar Merekayasa Kasus

Fachri Audhia Hafiez    •    Rabu, 09 Jan 2019 16:38 WIB
kasus korupsi
Eks Dirut Jasindo Dapat Rp3 Miliar Merekayasa Kasus
Sidang pemeriksaan saksi dengan terdakwa mantan Direktur Utama PT Asuransi Jasa Indonesia (PT Asuransi Jasindo) Budi Tjahjono - Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.

Jakarta: Mantan Direktur Utama PT Asuransi Jasa Indonesia (PT Asuransi Jasindo) Budi Tjahjono diketahui memerintahkan untuk merekayasa kegiatan agen. Dari hasil itu, dia mendapat Rp3 miliar. 

Hal ini diungkapkan komisaris di salah satu perusahaan travel haji dan umrah, Kiagus Emil Fahmy Cornain. Fahmy diperiksa sebagai saksi buat terdakwa Budi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta. 

Budi merekayasa kegiatan agen dan pembayaran komisi yang diberikan kepada agen PT Asuransi Jasindo seolah-olah sebagai imbalan jasa kegiatan agen atas penutupan asuransi aset dan konstruksi pada BP Migas-KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) tahun 2010 hingga 2012 dan tahun 2012 hingga 2014. Padahal, penutupan tersebut tidak menggunakan jasa agen PT Asuransi Jasindo.

"Jumlahnya seingat (saya) seluruh total nya Rp3,9 miliar, ditransfer bulan April dan Juli 2010," kata Fahmy Rabu, 9 Januari 2019.

Fahmy sebelumnya pernah menolak untuk menjadi agen yang diperintahkan oleh Budi. Akhirnya, Fahmy merekomendasikan stafnya bernama Tedi alias KM Iman Tauhid Khan menjadi agen Jasindo untuk Budi.

Uang senilai Rp3,9 miliar yang cair itu kemudian Rp3 miliar ditukarkan dalam bentuk dollar Amerika sejumlah US300 ribu. Fahmy mengaku mengatur pengambilan uang itu. 

"Pak Budi yang BBM (BlackBerry Messenger) saya, 'sudah disiapkan?' Lalu Pak Budi datang ke kantor saya bertemu di ruang rapat. Saya panggil Pak Tedi mana titipan Pak Budi," beber Fahmy.

Saat itu, Kata Fahmy, Budi hanya mengambil uang Rp3 miliar, sisanya tetap di rekening bank atas nama Tedi. "Ada uang tertinggal di rekening Iman Tauhid (Tedi) Rp994 juta," ujar dia.

(Baca juga: Mantan Dirut Jasindo Didakwa Rugikan Negara Rp16,04 Miliar)

Fahmy mengakui dari uang Rp994 juta itu sempat ia pinjam senilai Rp771 juta. Uang untuk ia belikan mobil Porsche. Namun, dia mengaku, telah mengembalikan uang pinjaman itu. 

"Saya pakai dulu, 2-3 bulan di tahun yang sama (2010) saya kembalikan," ujar Fahmy.

Budi Tjahjono didakwa merugikan negara hingga Rp8,46 miliar dan Rp7,58 miliar atau total Rp16,04 miliar. Hal tersebut berdasarkan hasil laporan hasil penghitungan kerugian keuangan negara dari Badan Pemeriksaan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) 17 November 2017.

Dalam surat dakwaan, perbuatan Budi tersebut dilakukan bersama-sama dengan orang kepercayaan mantan Kepala BP Migas Raden Priyono, Kiagus Emil Fahmy Cornain dan mantan Direktur Keuangan dan Investasi PT Asuransi Jasindo Sholihah. Ketiganya diduga mengambil keuntungan pribadi baik secara langsung maupun tidak langsung dari pengambilan keputusan dan kegiatan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Perkara ini bermula dari BP Migas yang berganti nama menjadi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Sebagai pembina, KKKS melakukan pengadaan jasa penutupan asuransi untuk melindungi aset dan proyek BP Migas. Jasindo merupakan salah satu perusahaan yang melakukan penutupan.
 
Jasindo kemudian menjadi leader konsorsium, karena sebelumnya Jasindo hanya berstatus sebagai co-leader konsorsium dalam penutupan asuransi proyek dan aset BP Migas. Dengan menjadi leader konsorsium, Jasindo mendapatkan laba dan keuntungan premi yang lebih besar.
 
Budi didakwa melanggar Pasal 2 ayat 1 jo Pasal 18 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.
 


(REN)