KPK Periksa Sallyawati Rahardja

Juven Martua Sitompul    •    Selasa, 05 Dec 2017 11:26 WIB
emirsyah satar tersangka
KPK Periksa Sallyawati Rahardja
Juru bicara KPK Febri Diansyah. Foto: Antara/Sigid Kurniawan

Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Sallyawati Rahardja. Dia diperiksa terkait kasus dugaan korupsi pengadaan pesawat dan mesin pesawat Garuda Indonesia yang melibatkan mantan Dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar.
 
Sallyawati akan diperiksa sebagai saksi untuk melengkapi berkas penyidikan tersangka Beneficial Owner Connaugt Pte. Ltd sekaligus pendiri PT Mugi Rekso Abadi, Soetikno Soedarjo (SS).
 
"Yang bersangkutan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka SS," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Selasa, 5 Desember 2017.
 
Informasi yang dihimpun, Sallyawati merupakan pihak yang mengatur pembelian barang untuk Emirsyah. Diduga uang yang digunakan untuk pembelian barang itu bagian suap dari Rolls Royce kepada Emirsyah.
 
Tak hanya itu, sejumlah uang juga ditransfer Sallyawati kepada PT Mugi Rekso dan salah satu keluarga Emirsyah. Kemudian, uang yang masuk ke PT Mugi Rekso itu digunakan Sallyawati membeli properti di Indonesia untuk Emirsyah.

Emirsyah diduga terlibat kasus suap pengadaan 11 pesawat Airbus A330-300 oleh PT Garuda pada 2012. Suap tersebut diberikan oleh Soetikno Soedarjo yang memiliki jabatan kehormatan di Rolls Royce cabang Singapura.‎

Airbus A330-300 memiliki tiga pilihan tenaga mesin, yaitu Rolls Royce 700, Pratt & Whitney PW 400, atau GE CF6-80E. Garuda membeli pesawat bermesin Rolls Royce Trent 700.

Baca: KPK Masih 'Bedah' Bukti Kasus Dugaan Suap Eks Dirut Garuda

Mesin Trent 700 ini ternyata masuk 'daftar hitam' lembaga regulator penerbangan sipil di Amerika Serikat, Federal Aviation Administration Safety Alert. Namun, mesin itu tetap digunakan untuk menerbangkan Airbus A330-300.

Dalam kasus ini, Emirsyah diduga menerima suap dalam bentuk uang dan barang dari Soetikno. Uang yang diterima Emirsyah diduga 1,2 juta Euro dan USD180 ribu atau setara Rp20 miliar. Sementara itu, barang senilai USD2 juta tersebar di Singapura dan Indonesia.

Baca: KPK Kantongi Dokumen Aliran Dana Suap Emirsyah Satar

Emirsyah diduga melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.




(FZN)