Staf Ahli Putu Kerap Diminta Menerima dan Mengirim Uang

Meilikhah    •    Senin, 28 Nov 2016 19:02 WIB
kasus suap
Staf Ahli Putu Kerap Diminta Menerima dan Mengirim Uang
Tersangka anggota DPR Fraksi Demokrat I Putu Sudiartana bergegas usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Senin (24/10). ANT/Reno Esnir

Metrotvnews.com, Jakarta: Staf Ahli I Putu Sudiartana, Novianti, mengaku sering menerima uang yang diduga hasil gratifikasi hingga mencapai Rp2,7 miliar. Selain itu, Novianti juga kerap diminta mendistribusikan uang-uang tersebut ke sejumlah pihak.

"Pernah nerima uang, salah satunya di Surabaya, di Stasiun Pasar Turi, sekitar April 2016," kata Novianti, saat bersaksi untuk Putu di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (28/11/2016).

Novianti mengatakan pada waktu itu, Putu pernah memintanya untuk menerima Rp2,1 miliar dari seseorang bernama Salim Alaydrus, di Stasiun Pasar Turi, Surabaya. Setelah diterima, Novianti diperintahkan Putu mengirimkan duit tersebut sejumlah Rp1,6 miliar kepada seseorang bernama Djoni Garyana.

"Rp500 juta sisanya disetor ke rekening kerabat Putu, Ni Luh Putu Sugiani," kata Novianti.

Satu bulan berselang atau pada Mei 2016, Putu kembali menerima duit sejumlah Rp300 juta dari Ippin Mamoto. Putu juga menerima duit lagi Rp300 juta dari pihak swasta bernama Mustakim. Lagi-lagi, Novianti diminta mengambilnya, masing-masing diterima di sebuah restoran di Senayan dan disetor ke rekening suami Novianti atas nama Mukhlis.

(Baca: Penyuap Putu Sudiartana Divonis 2 Tahun 10 Bulan

"Pak Putu tidak pernah kasih tahu itu uang apa, hanya diminta ambil. Tapi saya kenal Pak Ippin, dia adalah Satgas di Partai Demokrat," kata Novianti.

Novianti mengatakan, setiap penerimaan uang tidak disertai dengan bukti tanda terima. Para pemberi uang juga tidak menjelaskan maksud pemberian tersebut.

I Putu Sudiartana merupakan anggota Komisi III DPR RI. Dia didakwa menerima suap Rp500 juta dari pengusaha dan kepala Dinas Prasarana Jalan Provinsi Sumatera Barat. Suap tersebut terkait pengusahaan dana alokasi khusus (DAK) kegiatan sarana dan prasarana penunjang Provinsi Sumatera Barat pada APBN-P 2016.




(OGI)